Aku masih mengikuti arus cerita yang sebenarnya tidak pernah membuatku merasa nyaman. Terlihat aman dan bahagia saja bagi mereka yang tidak pernah mencari tahu dan bertanya padaku secara langsung. Aku ingin mencoba menghapus beberapa memori yang sebenarnya akan terus melekat meski aku ingin membuangnya jauh, dari situlah aku tahu kebahagian bisa saja berbentuk tangis dan kejahatan bisa saja berbentuk rindu. Berusaha berbagi malam dengan pikiranku sendiri adalah hal tersulit yang hampir tiap malam coba aku lewati, jika malam semakin larut aku suka suara tik tik air kran yang menetes perlahan layaknya musik dalam film horor. Terkadang hal menakutkan bisa jadi latihan memacu jantung agar terus berdetak, aku lebih suka jantungku berdebar-debar karena saat itulah aku merasa nyaman, merasa bahagia. Kamu ingat pertama kali kali kita bertemu? Disitulah pertama kali jantungku berdegup sangat cepat, gugup tapi tidak takut. Aku minta maaf tiba-tiba saja menulis tentangmu, tapi santai saja aku tidak akan menyebutkan namamu dalam halaman ini maupun halaman selanjutnya karena kamu hanya bagian dari lembaran kertas yang tanpa sengaja tertulis atas ijin waktu.
Percayalah aku menulis ini bukan karena sepenuhnya merindukan kamu tetapi cuma sekedar agar kamu tahu kalau aku bisa melebihi dari apa yang dulu kamu pikirkan tentangku. Sekarang aku tidak hanya menyukai mekarnya mawar, aku menyukai bunga-bunga kecil tanpa nama dan tanpa sengaja aku temukan dijalan. Setelah itu aku mulai berpikir ternyata sekuntum mawar bukanlah jaminan untuk bisa tersenyum setelah tertusuk durinya, bunga-bunga kecil lebih membahagiakan ketimbang mawar merah yang enggan menunduk hanya karena menganggap dia lebih pantas mendapatkan sesuatu yang entah karena memang sepatutnya seperti itu atau hanya gengsi karena kicauan burung yang bahkan tidak memberi dia telur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar