Selasa, 29 Agustus 2017

Puisi ( Rindu yang tak bertuan )







Lirih bibirku berbisik rindu di telinga

Kata demi kata

Tangisan bersembunyi di belakang pintu 

Aku tak sanggup mengelak 

Rintihan hati menghembuskan nafas terakhir 

Tergeletak tak berdaya 

Berlumuran air mata 

Rindu ini memaksaku mati rasa 

Dengan terbata-bata berkata 

aku memujimu di antara 

pelangi-pelangi senja yang tampil sempurna 

Lagi dan lagi 

Rindu ini menyatu bersama matahari terbenam 

Membuka lembaran kertas berdebu 

Merajut kembali benang-benang merah 

Tentang rindu ini 

Aku membenci itu semua 


Pada siapa... 

Pada rindu yang entah milik siapa... 








Senin, 21 Agustus 2017

Puisi ( Rindu yang tak kunjung reda )





Pagi datang lagi 

Di hiasi lukisan rindu 

embun-embun membasahi rerumputan 

kini aku berdiri di tepian hatimu

Seperti embun yang perlahan gugur dari ujung-ujung daun 

Entah akan tertahan kokohnya tangkai 

Atau goyang di terpa angin ...



aku tertegun menatap rindu yang tak kunjung reda

Dan satu pesan singkat tentang kepercayaan 

Pada ujung-ujung tombak 

Umpama kuil-kuil suci persembahan 

dalam hatiku paling dalam 

Tetap teguh berdiri tegak 

Membusungkan dada tanpa peduli bidikan anak panah 

Semua tentang rindu ini 

Semua tentang cerita itu 

Adalah kamu 

Embun pagi ini selalu bersahaja menemani





Minggu, 13 Agustus 2017

puisi ( sisa-sisa hujan di tanah kelahiran )




Memeluk rindu di guyuran air hujan disuatu senja

Didepan jendela kamar aku tertegun menatap butiran air

Bias-bias air mengenai wajahku

yang sedang duduk dibangku plastik made in china

secangkir kopi hitam hangat jadi pendamping yang tepat dikala itu

ku lihat beberapa anak kecil dilapangan samping rumah

sedang asyik bermain bersamaan hujan yang tidak terlalu deras

mereka tertawa

mereka berbagi senyum

mereka kejar-kejaran

entah permainan apa yang mereka mainkan

Mereka seperti sangat bahagia

dengan wajah polos berbalut kelucuan

dari masing-masing karakter wajah ibu bapaknya...

Menghitung angka mundur dari sepuluh sampai satu

aku pernah melakukan itu

berharap waktu bisa kembali 

Sabtu, 12 Agustus 2017

Puisi ( balada sebatang rokok part 2 )






Piiiiuuuhh lucu juga... 

sebatang rokok di hari minggu 

asap-asap penghasil cerita tanpa sengaja 

Terbang dan hinggap 

Di awan-awan kecil nan tinggi 

Terbahak-bahak seorang lelaki penikmat kopi di sampingku 

Berbagi opini tentang wanita 

candanya sesekali mengintip pada bilik jendela 

lagi-lagi aku ikut tertawa 




Hmmmm ...

Tak terasa waktu bergeser cepat 

jingga-jingga lembayung senja mulai terlihat 

Begitu juga kenangannya 

Tertahan di senja-senja selanjutnya

Kamis, 10 Agustus 2017

Puisi ( balada sebatang rokok )





disuatu minggu pagi

matahari menembus jendela tak bertirai

Dengan bermalasan aku bangkit

Ku lihat seorang teman sedang duduk menatap televisi

Acara tercela yang membuat lelucun dengan mencela

dengan wajah masih basah bekas percikan air

secangkir kopi di tangan kiri

dan sebatang rokok menyala di tangan kanan

Secepat bayangan ku raih rokok itu

Ku hisap dengan tiga Kali kepulan asap

Dia menatap sedikit kesal

Lalu merebut rokok yang sisa dua jari orang dewasa

Tak tahu aku sedang lapar katanya ...

seraya mengepulkan asap pekat rokok yang tersisa

Dia bilang sebatang rokok bisa menghilangkan rasa lapar setengah hari

Aku tertawa

Dan bicara...

Ada nasi dingin bekas tadi malam untuk di goreng bersama garam pengganti ikan 





Senin, 07 Agustus 2017

Puisi ( Rindu ini rindu )




Sepinya malam

Membendung rindu yang kian menggunung

Tanpa takaran

aku tahu caranya menepis sedikit rasa itu

Hanya saja aku tidak ingin kau membenciku

dengan rindu yang terlampau sering

Rembulan saja tak menampakan keindahannya di tiap malam

Dan rembulan tak butuh rindu seseorang untuk bersinar terang

akan ku jaga rindu ini

Meski rindumu enggan bicara

Meski rindumu menuntunku pergi darimu  

Sabtu, 05 Agustus 2017

Puisi ( Satu bintang diatas batu nisan )





Terlintas raut wajahmu 
Yang tak lepas di hari-hari berlalu 
Dan kini aku disini ...
menanti
Entah apa ... 
Menatap kosong gundukan tanah yang masih basah 
ingin kucoba gambarkan sketsa itu 
Pada batang pohon yang berdiri tegak 
Selagi ingatan ini masih jelas 


bintik-bintik hitam dalam kepalaku 
Merajut potongan-potongan wajah,
Wajah yang belum lama hilang 
Seketika ... 
Semilir nafas Ku hela panjang 
Merasakan adanya kehadiranmu 

Tertunduk membisu 
Aku menunggu 
Taburan bunga berhenti 
ingin ku berlari 
ingin Ku menangis sekencang yang ku bisa
Tapi mataku cukup pandai bersembunyi 
Walaupun sesekali mengalir kecil 


Masih menunggu 
Menunggu malam di ujung sepi 
akulah bintang itu 
Pada coretan batu nisan 
Menemanimu menunggu malam berhenti 

Selasa, 01 Agustus 2017

Puisi ( padamu perempuan yang cantiknya tak berdurasi )




Padamu Perempuan yang cantiknya tak berdurasi
Ku rangkai kata demi kata 
Baris berbaris huruf berjejer 
Aku gunting satu-satu 
Ku susun rapi
Padamu wahai perempuan 
aku memahami arti rasa nyaman
Datang teratur perlahan 
Mengalir dari sudut-sudut nadi 


Pelangi sore menampakan warna 
Padamu perempuan 
Pelangiku 
Warnaku memancar terang 
Padamu perempuan 
Seumpama kau tiada 
Padamu ku tulis sepuluh reinkarnasi 
Satu perempuan yg hidup 
Dari titisan sang waktu 


Aku menunggu mu dikehidupan selanjutnya 
Jika kau tak percaya itu 
Tak mengapa 
Aku hanya ingin kita bisa bersama 
Dalam dunia ini ataupun dunia dimana
Kau bukan kau 

Puisi ( Lagu senja dan rindu )

Pada bait lagu yang sering ku dengar  Selalu saja rindu ini enggan pergi  Untuk sementara waktu  Biarkanlah aku mengingatmu ...