Senin, 31 Juli 2017

Padamu perempuan yang aku sebut mawar




Padamu perempuan yang aku sebut mawar. Semenjak aku menyukai jingganya senja tiap-tiap waktu, disore-sore menanti senjanya senja datang lagi, seperti ingin membeli suatu rasa yang pernah ada mampir ditahun-tahun lalu. Lalu berlalu dengan cepat sehingga hampir tak pernah ada waktu memandang jingganya jingga disuatu sudut kota. Kota kecil yang terus bertambah muda, sementara aku kian menua. Bagian-bagian kenangan yang aku biarkan terpampang dalam awan-awan jingga penuh air mata, waktu-waktu kian berputar cepat, jantung-jantung kian berdetak lambat, kaki-kaki kian kaku. sebagai orang biasa yang bertarung dengan waktu aku tercipta dari patahan-patahan bongkahan es yang suatu waktu akan meleleh kemudian berbaur bersama air laut. Tidak mudah menelan rasa asin ditiap pagi menjelang, tidak mudah menyeduh kopi untuk orang yang tidak sama, tidak mudah belajar berenang sendirian. Disini aku berdiri pada perahu-perahu kayu kecil bercat biru mencoba mengarungi lautan luas menuju pulau kecil yang di tumbuhi mawar. Jika tak pernah sampai, maafkan aku. Setidaknya aku sudah pernah mendesain rindu-rindu itu untukmu.  Desain-desain rindu berbentuk gumpalan awan. Beberapa mawar plastik pernah aku temukan tercecer dijalan entah milik siapa atau sengaja dibuang oleh siapa.

Meski kau bukan mawar pertamaku, peran itu sudah terlanjur sebagai tokoh utama sampai akhir cerita. Jika ceritanya tak sesuai dengan konsep awal mungkin saja aku tertidur dan ceritanya berjalan tanpa skenario. Entah pada siapa rindumu itu nanti akan berlabuh sudah tak jadi soal bagiku, terpenting adalah rasa nyamanmu terhadap situasi yang saat ini kamu sukai. Melody-melody lagu lama sengaja aku putar berbarengan dengan matahari terbit agar hangatnya masih bisa aku rasakan berulang-ulang kali. merindukanmu adalah sesuatu yang menyenangkan buatku, bukan sebagai hobi melainkan sebagai suatu kebiasaan lama. teruntukmu mawar, kebiasaan itu mengendap sedikit lebih lama dari kebiasaan terdahulu selagi tulip masih kokoh berdiri sebagai urat nadiku hingga akhirnya tanpa sengaja atau karena skenario yang salah tulip itu tumbuh berkembang dihalaman rumah orang, aku sadar kalau sesuatu yang terlalu indah jauh lebih menyakitkan ketika dia hilang. Dari situ terkadang aku membenci apa yang aku cintai dan mencintai apa yang aku benci, sebagian bertolak belakang tak mudah di tebak, masih banyak kemungkinan bisa terjadi selagi banyak ragam mawar diluar sana.













" jangan pernah berpikir suatu waktu bisa mengalahkan waktu,
  Karena suatu waktu akan ada waktu dimana kamu kehabisan waktu " 

Rabu, 19 Juli 2017

Pantulan cermin



Jika rindu sosok seorang ayah seringkali aku menatap cermin lebih lama, dan jika aku rindu seorang perempuan yang sering aku sebut dari kayangan aku lebih suka memejamkan mata sejenak lalu sembari menatap langit. Ada hal berbeda dikala aku berusaha menyematkan senyum kecil bersama bintang-bintang diatas sana, eehm alangkah lucunya ketika aku berusaha keras membuat senyuman dihadapan wajahku sendiri, wajah asing berbalut rasa kecewa pada orang yang nampak berdiri sama.

Cermin satu-satunya media tempatku melihat tangis, media dimana aku bisa melihat rasa sakit yang tak pernah orang ketahui. Pecahan-pecahan kaca berserakan dilantai ketika aku mulai memukul wajah kembaranku. Ada darah menetes ditanganku, warnanya tampak merah gelap dikepalan tangan. Jiwa sederhana ini menerima hujan air mata dari berbagai sisi sehingga bagaimana bisa aku  pandai dalam bersikap, karakter yang aku bawa berkembang dari terjemahan lingkungan yang pernah aku tempati sebelumnya. Tempat-tempat dimana tidak ada perbedaan antara rasa garam dan bekas air keringat, selayaknya air keringat ini lebih terasa asin  ketika aku mulai menyadari pantulan cermin tampak asli dari yang ku lihat. Beberapa orang mungkin membuat rekayasa biar terlihat sempurna  sementara aku masih sibuk menyusun kepingan-kepingan puzzel yang masih berantakan.








" lingkungan sangat berpengaruh pada tumbuh kembangmu, tapi bukan bearti jika hidup dilingkungan buruk harus bersikap buruk. Kendalikan dirimu,
Kamulah yang bertanggung jawab atas dirimu sendiri "

Selasa, 11 Juli 2017

Mawar untuk mawar



Seharusnya mawar ini akan tetap selalu untuk mawar tetapi keputusanku kadang berubah-ubah hingga mekarnya tertunda sampai layu dan tak berduri lagi, beberapa orang ingin mencoba menyiramnya kembali. Aku memang pernah salah membiarkan mawar itu tak terawat dihalaman rumah, tapi percayalah mawarku selamanya untuk mawar tidak untuk melati ataupun tulip. Melati dan tulip memang tak berduri, itu sebabnya aku tidak tertarik pada melati ataupun tulip, bukan karena aromanya tapi memang duri salah satu mawar sudah tertanam tanpa bisa aku cabut, sangat dalam menembus salah satu pembulu darahku. Jadi jangan tanyakan apakah aku akan mencabut duri itu karena sakit, justru rasa sakitnya yang selalu aku rindukan menempel menemani hariku sebagai pembuka awal pagiku seperti bagian sensitif wajah cemberutnya yang terlihat bagai sekuntum mawar berbalut duri. Aku sering tertusuk duri dari tangkai mawar, kadang sakit kadang rasanya menenangkan melihat duri itu tetap senyum dan menempel dibeberapa jari tanganku.

Pada hatimu yang dulu selalu damai ketika ku dengar alunan degupnya. Aku merindukan getar telepon genggamku dalam saku celana dan biasa kulihat panggilan dari seseorang yang tertulis mawarku. Terima kasih sudah mau tumbuh dan mekar perlahan dari sedikit siraman air yang aku bawa, maafkan aku belum bisa membuat mu jauh terlihat indah dari banyak bunga-bunga. Tapi percayalah aku tidak akan membeli mawar baru hanya demi terlihat indah diluar sana.

Jangan berpikir mawarmu melukai dengan durinya tapi pikirkan bagaimana duri itu tetap jinak tanpa bisa melukai kulit luarmu, dan biarkan duri itu tetap menancap disela sela tulang rusak yang sudah kamu persiapkan. Kepada mawarku ; aku memilihmu bukan karena kelopakmu yang indah tapi karena duri tajammu yang membuat aku terbiasa menerima rasa nyaman menghirup sejuknya aromamu tanpa menyentuh dan merusak atau mematahkan duri kecilmu.














" jikalau ingin melihat hidup lebih bermakna 
 Janganlah selalu melihat dari sisi yang lebih istimewa, 
 Tapi cobalah pandang dari sisi-sisi yang berbeda " 



Senin, 10 Juli 2017

Tinta hitam




Tertulis lewat tinta hitam kisahku punya banyak cerita untuk dicatat sebagai sejarah untuk hari esok. Dongeng-dongeng yang pernah aku dengar semasa kecil kini tidak lagi Ku dapat sekarang ini. Aku rindu dongeng ketika malam tiba, dongeng tentang orang baik diakhir cerita, ending cerita yang selalu hampir sama, hanya tokoh dalam cerita yang berbeda. Aku adalah pelakon utama dalam dongeng yang coba aku tulis. Goresan tinta hitam disecarik kertas putih yang kupengang, lecek terlihat tidak menarik, aku menyadari itu. Sama hal seperti pakaian kumal pasti akan ada yang risih dan mencibir, aku akan tetap menulis meskipun itu tak akan membuatku jadi kaya. Sejelek dan seburuk apapun tulisanku yang terpenting bisa dimengerti, dibaca, dinikmati, dipahami. untuk seorang pemula aku patut berbangga hati bisa menulis cukup banyak lembaran halaman meskipun nanti ada yang suka ataupun tidak, setidaknya itu disebut sebuah karya.

Sesulit dan seterjal apapun medan yang aku tempuh anggap saja merupakan destinasi wisata, adakalanya hujan turun bersamaan dengan badai, adakalanya hujan ditengah hari saat matahari masih bersinar. Tinta hitam ini siap mencatat apapun yang lewat ataupun terlewatkan. Semua orang punya sampannya masing-masing untuk didayung, banyak kemungkinan bisa terjadi ditengah luasnya lautan. Aku pernah menulis sepucuk Surat lalu memasukannya kedalam botol kaca kemudian melemparnya kelaut, kemungkinan botolnya ditemukan orang yang tidak ku kenal atau terdampar dipulau tak berpenghuni. Entahlah, aku tidak memikirkan itu terlalu jauh karena aku bukan orang yang suka berdo'a untuk sesuatu imbalan. Jika do'a tak didengar aku lebih suka berpikir mungkin dosaku lebih besar dari kemungkinan apa yang aku catat dalam buku besar. Perbanyak mengingat Tuhan, itu kata yang patut aku gores disecarik kertas halaman terakhir sebagai tanda kembali ke pendahuluan bukan melahap sebuah rangkuman.










" orang yang baik adalah orang yang bersedia menundukan kepala setiap waktu,
   Selalu belajar untuk hormat " 

Senja diujung pena




Senja ini cahaya jingga menambah indahnya gumpalan awan disekitar. Sejuk angin sore ditepian sungai, lamunan demi lamunan membawaku larut dalam cerita tulisan tangan yang dimulai dengan kesedihan. Kesendirian yang membuatku untuk menulis sebagai tempat dimana aku bisa bebas, senja merupakan tempat terbaik untuk bersantai dan merangkai beberapa cerita disatu seduhan secangkir kopi. bagiku secangkir kopi saja sudah merupakan imajinasi tanpa batas, pembawa harapan-harapan baru diseruputan pertama. Aku menyukai suasana senja disaat sedang sepi karena disitu akan ada banyak kisah yang bisa aku tuangkan dari ujung pena.

Beberapa rangkaian yang aku suka adalah gabungan antara titik-titik awan berbalut sinar jingga dan beberapa cahaya disela-sela awan yang menutupi matahari seperti kepingan ide, menghabiskan pandangan sampai matahari terbenam adalah hal yang sangat menyenangkan. Aku menyukai senja layaknya seorang perempuan, senja tidak selalu sama tiap hari tapi dia selalu ada ditempat dimanapun kita mau melihatnya, dimana ada senja disitu ada kamu, kamu satu-satunya senjaku yang ceritanya tak akan pernah habis.











" kata mutiara senja ini hanya sebatas meluangkan waktu beberapa detik mengheningkan cipta untuk mengungkap bagian dari kenangan kita " 

Jumat, 07 Juli 2017

Ke titik nol



Mungkin ini jawaban dari semua, aku tidak akan bertanya banyak soal apa yang aku lihat, apa yang aku baca, apa yang aku dengar dan apa yang aku pikirkan. Seperti situasi yang memaksaku kembali ke titik nol dimana hamparan debu tersapu angin tak bersisa.

Apa yang aku rasakan dengan sesuatu yang coba kamu tunjukan adalah apa yang aku nilai, sedikit demi sedikit sebuah rasa penasaran mengusik rasa yang sudah lama tinggal. Rasa yang dulu aku jaga, rasa yang dulu aku simpan, rasa yang dulu aku percaya bisa menyatukan, rasa yang dulu ku pertahankan perlahan mulai luntur lantaran semakin seringnya aku melihat senyum indah diluar sana yang coba kamu pertontonkan, entah itu sindiran, entah itu pertanda kebebasan, aku hanya menafsirkan itu sebuah kata mutiara tak bertuan yang membuatku bingung pada siapa harus minta penerangan.

Haruskah aku berpaling pada pendirian yang sudah lama aku pegang teguh. Karena sudah terlalu mustahil mengembalikan senyum ketulusan pada dasar yang seharusnya sudah dinilai seperti lagu penghantar kematian. Entahlah, aku belum berencana untuk mati karena masih ada cinta yang menanti, masih bisa aku tanam pada orang yang ingin datang dengan niat baik.











" belajarlah mencintainya sebagai sesuatu yang indah untuk dibenci " 

Rabu, 05 Juli 2017

Curhatan tentang kertas kecil yang disebut uang



Sepertinya aku memang sudah harus mengangkat tangan, tidak ada lagi yang bisa aku lakukan, sudah waktunya menyerah dan berdamai dengan uang. Tidak ada yang mudah selain dipermudah tumpukan kertas merah soekarno hatta. Sampai kapanpun aku tak akan bisa melampaui kemampuan uang, uang adalah pembenaran dari segala sisi. Jikalau uang sudah berbicara semua mutlak akan jadi harga mati meskipun bisa ditawar percayalah kamu akan tersiksa dikemudian hari.

Sudahlah kisah cinta romeo dan juliet tidak akan pernah bisa hidup didunia sekarang ini, ini dunia dimana segala sesuatunya berbayar, bahkan sepotong ayatpun sebagian sudah ada yang memasang tarif, jadi jangan heran kalau perbedaan antara haram dan halal cuma sebatas tumit kemata kaki.
Sudut pandang setiap orang berbeda, bagi orang sepertiku cukup terima saja dan percayakan pada Tuhan kalau semua itu sudah terencana, itulah kenapa Tuhan menciptakan wanita dari tulang pria bukan dari tangkai bunga mawar, karena Tuhan tahu segalanya.

Maafkan aku jika tulisan ini sedikit agak kasar, anggap saja sebuah curhatan untuk mewakili banyak orang diluar sana yang terkendala dana untuk beberapa hajatan mereka, termasuk aku.









" atas dasar uang semua orang bisa menjadi bukan seseorang " 

Lamunan dari tumpahan kopi



Bagi orang sepertiku hanya keajaiban yang bisa merubah segalanya dan jikalau beruntungpun butuh waktu bertahun-tahun baru dapat jawaban. Jika ini harus berakhir dengan luka aku siap membalutnya dengan kain lalu membakarnya hingga kering, akan terasa sangat sakit memang tapi ketahuilah aku pernah merasakan sakit lebih dari itu ketika aku mulai sadar seorang lelaki paruh baya tidak lagi ada menemaniku bertumbuh menjadi pria dewasa hingga sekarang ini. Lalu seorang wanita tua yang kehabisan usianya disaat aku mulai mengerti cara-cara bertahan hidup dari sepotong roti dan secangkir susu, hingga detik ini pertanyaanku tetaplah sama, ini ujian atau hukuman ?

Jika kalian diluar sana mempertanyakan sekeras apa perjuanganku, itu adalah sebulat tekadku memaksa menelan nasi bertabur garam, asin memang. Tapi tetap harus ditelan demi menghentikan bunyi alarm. Sekeras dan sekuat apapun aku berusaha hasilnya akan tetap sama, tak akan pernah bisa cukup untuk membeli mulut-mulut orang diluar sana, jadi lebih baik diam dan berpura-pura tuli saja. Orang yang mulutnya suka berbicara kasar biasanya tidak lebih pintar dalam banyak hal, jadi percuma kalau harus repot memikirkan untuk membeli mulut orang yang otaknya sedikit kurang karena dijual kembali tidak akan laku.







" jangan menyeruput kopi yang sudah tumpah, 
  Lakukan hal seperlunya, secukupnya. Lalu bikinlah
 Kopi baru dengan gelas kecil " 

Selasa, 04 Juli 2017

Halaman baru buku PR Ku




Malam ini ada rindu yang tersendu-sendu seiring lingkaran mata yang mulai menghitam karena pikiran. Disaat seperti inilah semua jadi serba salah, rasa ini seperti ada tapi tak terasa dia ada, semua seakan sirna terkikis waktu yang tidak lagi ku kenal. Semerbak wangi tubuhnya menghantarkanku ke ruang mimpi yang berkelanjutan tanpa jeda. Ada bait-bait lagu yang belum selesai bersamaan dengan jarak yang berjauhan, entah suatu saat akan selesai atau akan terkubur ditanganku sendiri dan mematung seperti sepasang kursi tua kenangan yang dulu pernah kita duduki berdua.

Aku hanya ingin kita berjalan bersama, langkah demi langkah tanpa bertanya asalku. Tak ada yang bisa ku berikan padamu kecuali tanganku, aku tahu itu. Senyum ramahmu yang  tanpa sengaja menambah halaman halaman baru buku PR Ku yang harus aku pelajari setiap hari.











" cara sederhana menghargai perempuan adalah 
   Dengarkan dia disaat sedang marah, perempuan 
   Suka kangen saat kita bilang " udah marahnya " 

Senin, 03 Juli 2017

Antara malamku Dan diamku



Terkadang susah untuk bersyukur atas apa yang ada, semua tidaklah segampang kata mutiara yang kamu dengar. Hidup bukanlah seberapa banyak kamu menelan kata-kata bijak tapi seberapa bijak kamu bersikap. Aku tidak pernah merasa diriku orang yang baik, tidak juga ingin dinilai baik cukup sebagian orang mengenal dan menyadari keberadaan ku saja sudah cukup membuatku berasa hidup.

Hidupku tidaklah sesempurna orang lain diluar sana tapi setidaknya hidupku masih ada warnanya. Sekedar renungan pribadi dipertengahan malam yang membuatku susah untuk tidur lebih awal.

Semua memang terlihat mustahil dan terdengar gila ketika kita mulai berpikir, aku berpikir, berdo'a memohon, bersujud, kadang juga tidak tidur, bukan untuk menyiksa diri tapi karena pikiranku entah kemana. Aku berbaring sambil sesekali bangun dan menghirup secangkir kopi, lalu Ku pejamkan mata antara heningnya malam dan antara diamku. Malamku seakan bertabur cerita tanpa judul, saat aku memejamkan mata selalu ada sekilas kisah yang menepi dipikiranku. Kisah-kisah dalam imajinasiku, kisah-kisah yang mengganggu tidurku dan kisah yang mengganggu nafsu makanku.









" tempat terbaik untuk melamun adalah dipekatnya malam bertabur bintang " 

Minggu, 02 Juli 2017

Mimpi yang masih menggantung diatas langit


Sepertinya memang tidak ada mimpi yang nyata, seandainya mimpi itu benar-benar sungguh ada mungkin aku sudah kaya raya sejak dari dulu. Faktanya mimpi hanya sebatas bunga tidur dikala malam tiba. Aku pernah berlari sejauh yang aku bisa, aku pernah tertawa lantang seperti orang gila, aku pernah menangis sangat keras karena luka.

Aku tidak pernah bermimpi hidup seperti hidup sekarang ini tapi walau aku tidak pernah memimpikan itu dia tetap ada dijalur kehidupanku, hidup yang entah aku membencinya atau tidak ?. Sebaliknya mimpi ini hidup dihidupku bukan hidupku yang hidup dimimpiku. Aku tidak ingin berlarut-larut dalam mimpi yang tinggal dihidupku, karena bukan seberapa tinggi kita bermimpi tapi seberapa cepat kita bangun dari mimpi.

Aku selalu berusaha membuat nyanyian tetap bersenandung diatas langit, bukan mimpinya aku khawatirkan suatu saat akan jatuh tapi aku khawatir semangat hidupku terbang terlalu jauh dari sarangnya hingga lupa kalau masih tertidur pulas memeluk guling. Mimpiku selalu bersenandung diatas langit dengan nada-nada yang menggoda jiwa, entah sampai kapan dia membuat irama yang menggantung terlalu tinggi. Seandainya aku punya sayap, sudah pasti aku terbang menjemput mimpi itu, tapi sepertinya aku harus memanjat puncak tertinggi dan naik pesawat terbang untuk meraih mimpi itu. Atau tetap menunggu keajaiban sebuah sayap tumbuh dipunggungku.












" selalu ada kemungkinan disetiap detik, bahkan didetik terakhir sekalipun. Berjuanglah..." 

Puisi ( Lagu senja dan rindu )

Pada bait lagu yang sering ku dengar  Selalu saja rindu ini enggan pergi  Untuk sementara waktu  Biarkanlah aku mengingatmu ...