Padamu perempuan yang aku sebut mawar. Semenjak aku menyukai jingganya senja tiap-tiap waktu, disore-sore menanti senjanya senja datang lagi, seperti ingin membeli suatu rasa yang pernah ada mampir ditahun-tahun lalu. Lalu berlalu dengan cepat sehingga hampir tak pernah ada waktu memandang jingganya jingga disuatu sudut kota. Kota kecil yang terus bertambah muda, sementara aku kian menua. Bagian-bagian kenangan yang aku biarkan terpampang dalam awan-awan jingga penuh air mata, waktu-waktu kian berputar cepat, jantung-jantung kian berdetak lambat, kaki-kaki kian kaku. sebagai orang biasa yang bertarung dengan waktu aku tercipta dari patahan-patahan bongkahan es yang suatu waktu akan meleleh kemudian berbaur bersama air laut. Tidak mudah menelan rasa asin ditiap pagi menjelang, tidak mudah menyeduh kopi untuk orang yang tidak sama, tidak mudah belajar berenang sendirian. Disini aku berdiri pada perahu-perahu kayu kecil bercat biru mencoba mengarungi lautan luas menuju pulau kecil yang di tumbuhi mawar. Jika tak pernah sampai, maafkan aku. Setidaknya aku sudah pernah mendesain rindu-rindu itu untukmu. Desain-desain rindu berbentuk gumpalan awan. Beberapa mawar plastik pernah aku temukan tercecer dijalan entah milik siapa atau sengaja dibuang oleh siapa.
Meski kau bukan mawar pertamaku, peran itu sudah terlanjur sebagai tokoh utama sampai akhir cerita. Jika ceritanya tak sesuai dengan konsep awal mungkin saja aku tertidur dan ceritanya berjalan tanpa skenario. Entah pada siapa rindumu itu nanti akan berlabuh sudah tak jadi soal bagiku, terpenting adalah rasa nyamanmu terhadap situasi yang saat ini kamu sukai. Melody-melody lagu lama sengaja aku putar berbarengan dengan matahari terbit agar hangatnya masih bisa aku rasakan berulang-ulang kali. merindukanmu adalah sesuatu yang menyenangkan buatku, bukan sebagai hobi melainkan sebagai suatu kebiasaan lama. teruntukmu mawar, kebiasaan itu mengendap sedikit lebih lama dari kebiasaan terdahulu selagi tulip masih kokoh berdiri sebagai urat nadiku hingga akhirnya tanpa sengaja atau karena skenario yang salah tulip itu tumbuh berkembang dihalaman rumah orang, aku sadar kalau sesuatu yang terlalu indah jauh lebih menyakitkan ketika dia hilang. Dari situ terkadang aku membenci apa yang aku cintai dan mencintai apa yang aku benci, sebagian bertolak belakang tak mudah di tebak, masih banyak kemungkinan bisa terjadi selagi banyak ragam mawar diluar sana.
" jangan pernah berpikir suatu waktu bisa mengalahkan waktu,
Karena suatu waktu akan ada waktu dimana kamu kehabisan waktu "