Sepertinya memang tidak ada mimpi yang nyata, seandainya mimpi itu benar-benar sungguh ada mungkin aku sudah kaya raya sejak dari dulu. Faktanya mimpi hanya sebatas bunga tidur dikala malam tiba. Aku pernah berlari sejauh yang aku bisa, aku pernah tertawa lantang seperti orang gila, aku pernah menangis sangat keras karena luka.
Aku tidak pernah bermimpi hidup seperti hidup sekarang ini tapi walau aku tidak pernah memimpikan itu dia tetap ada dijalur kehidupanku, hidup yang entah aku membencinya atau tidak ?. Sebaliknya mimpi ini hidup dihidupku bukan hidupku yang hidup dimimpiku. Aku tidak ingin berlarut-larut dalam mimpi yang tinggal dihidupku, karena bukan seberapa tinggi kita bermimpi tapi seberapa cepat kita bangun dari mimpi.
Aku selalu berusaha membuat nyanyian tetap bersenandung diatas langit, bukan mimpinya aku khawatirkan suatu saat akan jatuh tapi aku khawatir semangat hidupku terbang terlalu jauh dari sarangnya hingga lupa kalau masih tertidur pulas memeluk guling. Mimpiku selalu bersenandung diatas langit dengan nada-nada yang menggoda jiwa, entah sampai kapan dia membuat irama yang menggantung terlalu tinggi. Seandainya aku punya sayap, sudah pasti aku terbang menjemput mimpi itu, tapi sepertinya aku harus memanjat puncak tertinggi dan naik pesawat terbang untuk meraih mimpi itu. Atau tetap menunggu keajaiban sebuah sayap tumbuh dipunggungku.
" selalu ada kemungkinan disetiap detik, bahkan didetik terakhir sekalipun. Berjuanglah..."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar