Jika rindu sosok seorang ayah seringkali aku menatap cermin lebih lama, dan jika aku rindu seorang perempuan yang sering aku sebut dari kayangan aku lebih suka memejamkan mata sejenak lalu sembari menatap langit. Ada hal berbeda dikala aku berusaha menyematkan senyum kecil bersama bintang-bintang diatas sana, eehm alangkah lucunya ketika aku berusaha keras membuat senyuman dihadapan wajahku sendiri, wajah asing berbalut rasa kecewa pada orang yang nampak berdiri sama.
Cermin satu-satunya media tempatku melihat tangis, media dimana aku bisa melihat rasa sakit yang tak pernah orang ketahui. Pecahan-pecahan kaca berserakan dilantai ketika aku mulai memukul wajah kembaranku. Ada darah menetes ditanganku, warnanya tampak merah gelap dikepalan tangan. Jiwa sederhana ini menerima hujan air mata dari berbagai sisi sehingga bagaimana bisa aku pandai dalam bersikap, karakter yang aku bawa berkembang dari terjemahan lingkungan yang pernah aku tempati sebelumnya. Tempat-tempat dimana tidak ada perbedaan antara rasa garam dan bekas air keringat, selayaknya air keringat ini lebih terasa asin ketika aku mulai menyadari pantulan cermin tampak asli dari yang ku lihat. Beberapa orang mungkin membuat rekayasa biar terlihat sempurna sementara aku masih sibuk menyusun kepingan-kepingan puzzel yang masih berantakan.
" lingkungan sangat berpengaruh pada tumbuh kembangmu, tapi bukan bearti jika hidup dilingkungan buruk harus bersikap buruk. Kendalikan dirimu,
Kamulah yang bertanggung jawab atas dirimu sendiri "
Tidak ada komentar:
Posting Komentar