Angin malam terlalu dingin untuk jadi teman dan sangat menusuk tulang, beberapa saat aku tenang lalu menangis. Hampir setiap malam aku menunggu, menunggu malam untuk berhenti, tapi bayangan yang tertulis dibatu nisan selalu menghantui.
Wajahmu masih Ku ingat, sedikit kerutan dan rambut yang memutih. Aku pernah lihat lukisanmu di beberapa buku yang Ku buka, saat itu aku memang belum mengerti tentang coretan pensil, tetapi itu sangat menarik perhatianku. Lukisan yang hanya bisa Ku ingat, pria tua dengan sampan kecilnya. Mungkin itu kamu ?
Entahlah, aku belum sempat tanyakan itu.
Kamu juga suka menggiling tembakau dengan halus lalu menghisapnya dalam-dalam. Hanya itu hal sederhana yang bisa Ku ingat, mencoba mengingat semua tapi tak bisa. Aku hanya anak-anak yang belum mengerti tawa dan tangis dunia.
Hangatnya pelukanmu beberapa saat aku rasa hingga kau pergi, istri mu bilang ke balikpapan. Hampir setiap hari aku bertanya " kapan kamu pulang " ?
Sampai akhirnya waktu memaksa aku mengerti segalanya. Kamu pria tua yang mengajariku bersikap dewasa belum pada waktunya. Aku cuma bisa berharap ayahku bangga padaku, walau aku tidak pernah tahu ayahku memimpikan aku seperti apa, tapi aku selalu memimpikan itu, mimpi seperti yang mungkin ayahku impikan padaku.
( walau aku tidak pernah tahu ayahku memimpikan aku seperti apa, tapi aku selalu memimpikan itu, mimpi seperti yang mungkin ayahku impikan padaku )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar