Telah ku ukir wajah seorang wanita berambut panjang dengan sedikit uban, pada langit-langit mulut dan dinding-dinding jantungku. Anehnya tidak begitu terasa sakit bahkan ketika alat pengukir mulai menggores bagian dari jantungku. Wajah itu selalu menatap setiap saat bahkan ketika gelap.
Rasa yang aku rasa tidak begitu terasa, sangat berbeda dan tetap membisu dibalik jeruji besi berkarat. Tidak ada yang bisa aku lakukan, dengan sedikit air mata aku berdo'a, berharap Tuhan akan merasa iba. Tuhan tolong bangkitkan dia walau hanya satu menit.
Izinkan aku mencium keningnya.
Izinkan aku membasuh jari-jari kakinya.
Dalam keadaan bernafas bukan dalam keadaan tertidur lelap.
Saat dimana aku tidak merasakan detak jantungku, seakan berhenti berdetak dalam beberapa detik. Aku benar-benar mulai merasa ada surga yang hilang diguyur air yang membasahi tubuhnya. Ku lihat wajahnya bagai ada sedikit senyum berisyarat padaku, itu hari dimana aku tidak memperdulikan putaran jarum jam. Berharap tetap bisa menatap malaikat yang baru saja kehilangan sayap.
Waktu terasa berhenti sejenak dan dunia terasa kosong, tanpa ada sedikitpun suara yang bisa ku dengar. Bahkan malam itu aku sanggup menghilang kan semua bentuk rasa yang ada. Aku tidak merasa lapar, aku tidak mengantuk, tapi ada dua rasa yang tidak bisa aku singkirkan, yaitu rasa sedih dan kehilangan. Segenap jiwaku hanya bagian dari raga yang berdiri dan duduk tanpa artist yang suatu waktu juga akan terbaring.
Hidupku seakan hancur berantakan, aku seolah-olah bertindak tidak terjadi apa-apa, aku berpura-pura semuanya terlihat baik-baik saja. Walau berusaha untuk baik-baik saja itu tidak mudah. Jawaban yang coba aku tanyakan pada sekawanan serigala liar dalam hutan. Dipenghujung malam yang sepi aku sendiri, duduk melamun jingkrak-jingkrak , duduk lagi dan berdiri lagi, aku ingin teriak sekencang-kencangnya.
Malam ini aku berencana untuk tidur lebih awal, aku ingin tenang dan tidak banyak pikiran dulu. Tapi kayanya malam enggan meninggalkan ku sendiri.
Hal yang tetap aku benci, menunggu pagi dikala waktu tak berpihak. Sulit untuk bisa kuterima, bagai orang gila yang sadar kalau dirinya lagi. Tidak banyak yang bisa aku lakukan, aku berserah padamu, aku yakin sang waktu akan punya skenario baru untuk ceritaku yang jauh lebih indah.
( ketika sang waktu belum berpihak padamu,
Sabarlah...
Dia punya skenario baru untuk ceritamu
Yang jauh lebih indah )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar