Jumat, 15 Desember 2017

Sedikit tentang AKU






sebenarnya aku malas berbagi cerita tentang perasaan ku, tentang kenapa aku tidak terlalu banyak bicara sekarang, alasan menulis ini adalah hanya ingin beberapa tanggapan yang setidaknya bisa sedikit menghibur. Maafkan aku atas segalanya, aku akan baik-baik saja berdua dengan pikiranku. Aku sudah terbiasa dari kecil untuk memikirkan segalanya berdua saja dengan pikiranku, pada saat umurku tujuh tahun lebih sedikit ayahku pergi dimana aku belum memahami kesedihan, hanya saja aku meneteskan air mata tanpa aku tahu artinya. tahun-tahun berlalu aku  mulai belajar melupakan gurauan pak tua yang orang sebut kakek itu, aku memang perlahan lupa wajah keriputnya tapi tidak dengan teriakannya, suaranya sedikit parau. Waktu berlalu sangat cepat, layaknya seorang remaja yang mulai bertumbuh dewasa aku mulai mencari-cari jati diri, sesering mungkin aku mencari pembenaran dari hal-hal baru yang aku temukan, sesekali juga aku menemukan hiburan bersama teman.


itulah kenapa aku selalu berusaha mencari kebahagian dengan caraku sendiri dan membuat keberuntunganku sendiri walau terkadang itu lebih sering membuat orang lain tidak suka bahkan orang terdekatku. Bukan karena aku keras kepala tapi memang aku sudah terbiasa menerima keadaan yang nyatanya kadang bersahabat kadang tidak, memang sering kali sebagian orang berpendapat berbeda.
Lelah, iya sangat lelah.

Selasa, 17 Oktober 2017

Puisi ( gurauan pak tua )




Mengertilah hidupku tidak semanis raut senyum indah yang terlihat
ada cerita yang tidak pernah bisa kalian dengar
ada kisi-kisi yang tak bisa kalian baca
Ada halaman-halaman yang belum tuntas
Ada banyak coretan-coretan yang coba aku perbaiki tanpa kalian tahu
Mengartilah ada banyak cerita yang tidak ingin aku pentaskan
percayalah ini semacam cerita horror yang aku komedikan
untuk tetap berdiri menatap langit yang tenang


Saat masih anak-anak ayahku berkata ;

"Jika suatu hari aku bertumbuh menjadi pria dewasa"
"Ingatlah jangan hitung berapa banyak tembakau yang aku giling
Tapi ingatlah sama Tuhan semesta alam
Menjadi gila itu bukan untuk di pamerkan
Memiliki harta tidak selalu berupa uang
Terkadang kita punya cara tersendiri agar terlihat dan di akui
Dan yang terpenting tentang rasa dari lukanya
bukan tentang besar kecilnya ukuran kepalan tangan"

 Aku menyadari semua itu ketika
mulai mengenal aroma wewangian dan aroma masakan

Kamis, 12 Oktober 2017

Puisi ( Dalam pusaran kampung kenangan )




Ada saatnya pelangi yang kamu kagumi  tidak lagi merah kuning hijau
Ada kalanya warna-warna itu memudar 
Seiring langit senja yang mulai gelap 
dan matahari tenggelam perlahan
Ku tutup jendala-jendela rumah dan pintu sambil melihat sekitar 
kampung halaman ini sudah banyak berubah 
Setelah sekian lama 
Aku tidak bisa merindukan 
Dan menemukan kedamain di sini 
Kampung yang dulu tempat bermain 
Di penuhi semak belukar dan putri Malu
Topeng-topeng tebal berbeda dari wajah asli mereka 


Malam-malam penuh auman serigala 
Dalam pusaran kampung kenangan 
Suara-suara teriakan dijalanan 
Entah mereka tertelan apa... 
Katanya menelan dalam jumlah banyak
Membuatmu seperti disurga 
Bahkan mereka bisa menciptakan surga 
iya surga.... 
Kampung kenangan diperbatasan kota 
Banyak surga yang aku lewatkan di sini 
Aku hanya akan kembali sesekali jika aku mau 
Bukan jika aku rindu  

Senin, 04 September 2017

Puisi ( bisikan rindu )





Lirih bibirku berbisik rindu di telinga

Kata demi kata

Tangisan bersembunyi di belakang pintu

Aku tak sanggup mengelak

Rintihan hati menghembuskan nafas terakhir

Tergeletak tak berdaya

Berlumuran air mata

Rindu ini memaksaku mati rasa

Dengan terbata-bata berkata

aku memujimu

Di antara pelangi-pelangi senja yang tampil sempurna

Lagi dan lagi

Rindu ini menyatu bersama matahari terbenam

Membuka lembaran kertas berdebu






Selasa, 29 Agustus 2017

Puisi ( Rindu yang tak bertuan )







Lirih bibirku berbisik rindu di telinga

Kata demi kata

Tangisan bersembunyi di belakang pintu 

Aku tak sanggup mengelak 

Rintihan hati menghembuskan nafas terakhir 

Tergeletak tak berdaya 

Berlumuran air mata 

Rindu ini memaksaku mati rasa 

Dengan terbata-bata berkata 

aku memujimu di antara 

pelangi-pelangi senja yang tampil sempurna 

Lagi dan lagi 

Rindu ini menyatu bersama matahari terbenam 

Membuka lembaran kertas berdebu 

Merajut kembali benang-benang merah 

Tentang rindu ini 

Aku membenci itu semua 


Pada siapa... 

Pada rindu yang entah milik siapa... 








Senin, 21 Agustus 2017

Puisi ( Rindu yang tak kunjung reda )





Pagi datang lagi 

Di hiasi lukisan rindu 

embun-embun membasahi rerumputan 

kini aku berdiri di tepian hatimu

Seperti embun yang perlahan gugur dari ujung-ujung daun 

Entah akan tertahan kokohnya tangkai 

Atau goyang di terpa angin ...



aku tertegun menatap rindu yang tak kunjung reda

Dan satu pesan singkat tentang kepercayaan 

Pada ujung-ujung tombak 

Umpama kuil-kuil suci persembahan 

dalam hatiku paling dalam 

Tetap teguh berdiri tegak 

Membusungkan dada tanpa peduli bidikan anak panah 

Semua tentang rindu ini 

Semua tentang cerita itu 

Adalah kamu 

Embun pagi ini selalu bersahaja menemani





Minggu, 13 Agustus 2017

puisi ( sisa-sisa hujan di tanah kelahiran )




Memeluk rindu di guyuran air hujan disuatu senja

Didepan jendela kamar aku tertegun menatap butiran air

Bias-bias air mengenai wajahku

yang sedang duduk dibangku plastik made in china

secangkir kopi hitam hangat jadi pendamping yang tepat dikala itu

ku lihat beberapa anak kecil dilapangan samping rumah

sedang asyik bermain bersamaan hujan yang tidak terlalu deras

mereka tertawa

mereka berbagi senyum

mereka kejar-kejaran

entah permainan apa yang mereka mainkan

Mereka seperti sangat bahagia

dengan wajah polos berbalut kelucuan

dari masing-masing karakter wajah ibu bapaknya...

Menghitung angka mundur dari sepuluh sampai satu

aku pernah melakukan itu

berharap waktu bisa kembali 

Sabtu, 12 Agustus 2017

Puisi ( balada sebatang rokok part 2 )






Piiiiuuuhh lucu juga... 

sebatang rokok di hari minggu 

asap-asap penghasil cerita tanpa sengaja 

Terbang dan hinggap 

Di awan-awan kecil nan tinggi 

Terbahak-bahak seorang lelaki penikmat kopi di sampingku 

Berbagi opini tentang wanita 

candanya sesekali mengintip pada bilik jendela 

lagi-lagi aku ikut tertawa 




Hmmmm ...

Tak terasa waktu bergeser cepat 

jingga-jingga lembayung senja mulai terlihat 

Begitu juga kenangannya 

Tertahan di senja-senja selanjutnya

Kamis, 10 Agustus 2017

Puisi ( balada sebatang rokok )





disuatu minggu pagi

matahari menembus jendela tak bertirai

Dengan bermalasan aku bangkit

Ku lihat seorang teman sedang duduk menatap televisi

Acara tercela yang membuat lelucun dengan mencela

dengan wajah masih basah bekas percikan air

secangkir kopi di tangan kiri

dan sebatang rokok menyala di tangan kanan

Secepat bayangan ku raih rokok itu

Ku hisap dengan tiga Kali kepulan asap

Dia menatap sedikit kesal

Lalu merebut rokok yang sisa dua jari orang dewasa

Tak tahu aku sedang lapar katanya ...

seraya mengepulkan asap pekat rokok yang tersisa

Dia bilang sebatang rokok bisa menghilangkan rasa lapar setengah hari

Aku tertawa

Dan bicara...

Ada nasi dingin bekas tadi malam untuk di goreng bersama garam pengganti ikan 





Senin, 07 Agustus 2017

Puisi ( Rindu ini rindu )




Sepinya malam

Membendung rindu yang kian menggunung

Tanpa takaran

aku tahu caranya menepis sedikit rasa itu

Hanya saja aku tidak ingin kau membenciku

dengan rindu yang terlampau sering

Rembulan saja tak menampakan keindahannya di tiap malam

Dan rembulan tak butuh rindu seseorang untuk bersinar terang

akan ku jaga rindu ini

Meski rindumu enggan bicara

Meski rindumu menuntunku pergi darimu  

Sabtu, 05 Agustus 2017

Puisi ( Satu bintang diatas batu nisan )





Terlintas raut wajahmu 
Yang tak lepas di hari-hari berlalu 
Dan kini aku disini ...
menanti
Entah apa ... 
Menatap kosong gundukan tanah yang masih basah 
ingin kucoba gambarkan sketsa itu 
Pada batang pohon yang berdiri tegak 
Selagi ingatan ini masih jelas 


bintik-bintik hitam dalam kepalaku 
Merajut potongan-potongan wajah,
Wajah yang belum lama hilang 
Seketika ... 
Semilir nafas Ku hela panjang 
Merasakan adanya kehadiranmu 

Tertunduk membisu 
Aku menunggu 
Taburan bunga berhenti 
ingin ku berlari 
ingin Ku menangis sekencang yang ku bisa
Tapi mataku cukup pandai bersembunyi 
Walaupun sesekali mengalir kecil 


Masih menunggu 
Menunggu malam di ujung sepi 
akulah bintang itu 
Pada coretan batu nisan 
Menemanimu menunggu malam berhenti 

Selasa, 01 Agustus 2017

Puisi ( padamu perempuan yang cantiknya tak berdurasi )




Padamu Perempuan yang cantiknya tak berdurasi
Ku rangkai kata demi kata 
Baris berbaris huruf berjejer 
Aku gunting satu-satu 
Ku susun rapi
Padamu wahai perempuan 
aku memahami arti rasa nyaman
Datang teratur perlahan 
Mengalir dari sudut-sudut nadi 


Pelangi sore menampakan warna 
Padamu perempuan 
Pelangiku 
Warnaku memancar terang 
Padamu perempuan 
Seumpama kau tiada 
Padamu ku tulis sepuluh reinkarnasi 
Satu perempuan yg hidup 
Dari titisan sang waktu 


Aku menunggu mu dikehidupan selanjutnya 
Jika kau tak percaya itu 
Tak mengapa 
Aku hanya ingin kita bisa bersama 
Dalam dunia ini ataupun dunia dimana
Kau bukan kau 

Senin, 31 Juli 2017

Padamu perempuan yang aku sebut mawar




Padamu perempuan yang aku sebut mawar. Semenjak aku menyukai jingganya senja tiap-tiap waktu, disore-sore menanti senjanya senja datang lagi, seperti ingin membeli suatu rasa yang pernah ada mampir ditahun-tahun lalu. Lalu berlalu dengan cepat sehingga hampir tak pernah ada waktu memandang jingganya jingga disuatu sudut kota. Kota kecil yang terus bertambah muda, sementara aku kian menua. Bagian-bagian kenangan yang aku biarkan terpampang dalam awan-awan jingga penuh air mata, waktu-waktu kian berputar cepat, jantung-jantung kian berdetak lambat, kaki-kaki kian kaku. sebagai orang biasa yang bertarung dengan waktu aku tercipta dari patahan-patahan bongkahan es yang suatu waktu akan meleleh kemudian berbaur bersama air laut. Tidak mudah menelan rasa asin ditiap pagi menjelang, tidak mudah menyeduh kopi untuk orang yang tidak sama, tidak mudah belajar berenang sendirian. Disini aku berdiri pada perahu-perahu kayu kecil bercat biru mencoba mengarungi lautan luas menuju pulau kecil yang di tumbuhi mawar. Jika tak pernah sampai, maafkan aku. Setidaknya aku sudah pernah mendesain rindu-rindu itu untukmu.  Desain-desain rindu berbentuk gumpalan awan. Beberapa mawar plastik pernah aku temukan tercecer dijalan entah milik siapa atau sengaja dibuang oleh siapa.

Meski kau bukan mawar pertamaku, peran itu sudah terlanjur sebagai tokoh utama sampai akhir cerita. Jika ceritanya tak sesuai dengan konsep awal mungkin saja aku tertidur dan ceritanya berjalan tanpa skenario. Entah pada siapa rindumu itu nanti akan berlabuh sudah tak jadi soal bagiku, terpenting adalah rasa nyamanmu terhadap situasi yang saat ini kamu sukai. Melody-melody lagu lama sengaja aku putar berbarengan dengan matahari terbit agar hangatnya masih bisa aku rasakan berulang-ulang kali. merindukanmu adalah sesuatu yang menyenangkan buatku, bukan sebagai hobi melainkan sebagai suatu kebiasaan lama. teruntukmu mawar, kebiasaan itu mengendap sedikit lebih lama dari kebiasaan terdahulu selagi tulip masih kokoh berdiri sebagai urat nadiku hingga akhirnya tanpa sengaja atau karena skenario yang salah tulip itu tumbuh berkembang dihalaman rumah orang, aku sadar kalau sesuatu yang terlalu indah jauh lebih menyakitkan ketika dia hilang. Dari situ terkadang aku membenci apa yang aku cintai dan mencintai apa yang aku benci, sebagian bertolak belakang tak mudah di tebak, masih banyak kemungkinan bisa terjadi selagi banyak ragam mawar diluar sana.













" jangan pernah berpikir suatu waktu bisa mengalahkan waktu,
  Karena suatu waktu akan ada waktu dimana kamu kehabisan waktu " 

Rabu, 19 Juli 2017

Pantulan cermin



Jika rindu sosok seorang ayah seringkali aku menatap cermin lebih lama, dan jika aku rindu seorang perempuan yang sering aku sebut dari kayangan aku lebih suka memejamkan mata sejenak lalu sembari menatap langit. Ada hal berbeda dikala aku berusaha menyematkan senyum kecil bersama bintang-bintang diatas sana, eehm alangkah lucunya ketika aku berusaha keras membuat senyuman dihadapan wajahku sendiri, wajah asing berbalut rasa kecewa pada orang yang nampak berdiri sama.

Cermin satu-satunya media tempatku melihat tangis, media dimana aku bisa melihat rasa sakit yang tak pernah orang ketahui. Pecahan-pecahan kaca berserakan dilantai ketika aku mulai memukul wajah kembaranku. Ada darah menetes ditanganku, warnanya tampak merah gelap dikepalan tangan. Jiwa sederhana ini menerima hujan air mata dari berbagai sisi sehingga bagaimana bisa aku  pandai dalam bersikap, karakter yang aku bawa berkembang dari terjemahan lingkungan yang pernah aku tempati sebelumnya. Tempat-tempat dimana tidak ada perbedaan antara rasa garam dan bekas air keringat, selayaknya air keringat ini lebih terasa asin  ketika aku mulai menyadari pantulan cermin tampak asli dari yang ku lihat. Beberapa orang mungkin membuat rekayasa biar terlihat sempurna  sementara aku masih sibuk menyusun kepingan-kepingan puzzel yang masih berantakan.








" lingkungan sangat berpengaruh pada tumbuh kembangmu, tapi bukan bearti jika hidup dilingkungan buruk harus bersikap buruk. Kendalikan dirimu,
Kamulah yang bertanggung jawab atas dirimu sendiri "

Selasa, 11 Juli 2017

Mawar untuk mawar



Seharusnya mawar ini akan tetap selalu untuk mawar tetapi keputusanku kadang berubah-ubah hingga mekarnya tertunda sampai layu dan tak berduri lagi, beberapa orang ingin mencoba menyiramnya kembali. Aku memang pernah salah membiarkan mawar itu tak terawat dihalaman rumah, tapi percayalah mawarku selamanya untuk mawar tidak untuk melati ataupun tulip. Melati dan tulip memang tak berduri, itu sebabnya aku tidak tertarik pada melati ataupun tulip, bukan karena aromanya tapi memang duri salah satu mawar sudah tertanam tanpa bisa aku cabut, sangat dalam menembus salah satu pembulu darahku. Jadi jangan tanyakan apakah aku akan mencabut duri itu karena sakit, justru rasa sakitnya yang selalu aku rindukan menempel menemani hariku sebagai pembuka awal pagiku seperti bagian sensitif wajah cemberutnya yang terlihat bagai sekuntum mawar berbalut duri. Aku sering tertusuk duri dari tangkai mawar, kadang sakit kadang rasanya menenangkan melihat duri itu tetap senyum dan menempel dibeberapa jari tanganku.

Pada hatimu yang dulu selalu damai ketika ku dengar alunan degupnya. Aku merindukan getar telepon genggamku dalam saku celana dan biasa kulihat panggilan dari seseorang yang tertulis mawarku. Terima kasih sudah mau tumbuh dan mekar perlahan dari sedikit siraman air yang aku bawa, maafkan aku belum bisa membuat mu jauh terlihat indah dari banyak bunga-bunga. Tapi percayalah aku tidak akan membeli mawar baru hanya demi terlihat indah diluar sana.

Jangan berpikir mawarmu melukai dengan durinya tapi pikirkan bagaimana duri itu tetap jinak tanpa bisa melukai kulit luarmu, dan biarkan duri itu tetap menancap disela sela tulang rusak yang sudah kamu persiapkan. Kepada mawarku ; aku memilihmu bukan karena kelopakmu yang indah tapi karena duri tajammu yang membuat aku terbiasa menerima rasa nyaman menghirup sejuknya aromamu tanpa menyentuh dan merusak atau mematahkan duri kecilmu.














" jikalau ingin melihat hidup lebih bermakna 
 Janganlah selalu melihat dari sisi yang lebih istimewa, 
 Tapi cobalah pandang dari sisi-sisi yang berbeda " 



Senin, 10 Juli 2017

Tinta hitam




Tertulis lewat tinta hitam kisahku punya banyak cerita untuk dicatat sebagai sejarah untuk hari esok. Dongeng-dongeng yang pernah aku dengar semasa kecil kini tidak lagi Ku dapat sekarang ini. Aku rindu dongeng ketika malam tiba, dongeng tentang orang baik diakhir cerita, ending cerita yang selalu hampir sama, hanya tokoh dalam cerita yang berbeda. Aku adalah pelakon utama dalam dongeng yang coba aku tulis. Goresan tinta hitam disecarik kertas putih yang kupengang, lecek terlihat tidak menarik, aku menyadari itu. Sama hal seperti pakaian kumal pasti akan ada yang risih dan mencibir, aku akan tetap menulis meskipun itu tak akan membuatku jadi kaya. Sejelek dan seburuk apapun tulisanku yang terpenting bisa dimengerti, dibaca, dinikmati, dipahami. untuk seorang pemula aku patut berbangga hati bisa menulis cukup banyak lembaran halaman meskipun nanti ada yang suka ataupun tidak, setidaknya itu disebut sebuah karya.

Sesulit dan seterjal apapun medan yang aku tempuh anggap saja merupakan destinasi wisata, adakalanya hujan turun bersamaan dengan badai, adakalanya hujan ditengah hari saat matahari masih bersinar. Tinta hitam ini siap mencatat apapun yang lewat ataupun terlewatkan. Semua orang punya sampannya masing-masing untuk didayung, banyak kemungkinan bisa terjadi ditengah luasnya lautan. Aku pernah menulis sepucuk Surat lalu memasukannya kedalam botol kaca kemudian melemparnya kelaut, kemungkinan botolnya ditemukan orang yang tidak ku kenal atau terdampar dipulau tak berpenghuni. Entahlah, aku tidak memikirkan itu terlalu jauh karena aku bukan orang yang suka berdo'a untuk sesuatu imbalan. Jika do'a tak didengar aku lebih suka berpikir mungkin dosaku lebih besar dari kemungkinan apa yang aku catat dalam buku besar. Perbanyak mengingat Tuhan, itu kata yang patut aku gores disecarik kertas halaman terakhir sebagai tanda kembali ke pendahuluan bukan melahap sebuah rangkuman.










" orang yang baik adalah orang yang bersedia menundukan kepala setiap waktu,
   Selalu belajar untuk hormat " 

Senja diujung pena




Senja ini cahaya jingga menambah indahnya gumpalan awan disekitar. Sejuk angin sore ditepian sungai, lamunan demi lamunan membawaku larut dalam cerita tulisan tangan yang dimulai dengan kesedihan. Kesendirian yang membuatku untuk menulis sebagai tempat dimana aku bisa bebas, senja merupakan tempat terbaik untuk bersantai dan merangkai beberapa cerita disatu seduhan secangkir kopi. bagiku secangkir kopi saja sudah merupakan imajinasi tanpa batas, pembawa harapan-harapan baru diseruputan pertama. Aku menyukai suasana senja disaat sedang sepi karena disitu akan ada banyak kisah yang bisa aku tuangkan dari ujung pena.

Beberapa rangkaian yang aku suka adalah gabungan antara titik-titik awan berbalut sinar jingga dan beberapa cahaya disela-sela awan yang menutupi matahari seperti kepingan ide, menghabiskan pandangan sampai matahari terbenam adalah hal yang sangat menyenangkan. Aku menyukai senja layaknya seorang perempuan, senja tidak selalu sama tiap hari tapi dia selalu ada ditempat dimanapun kita mau melihatnya, dimana ada senja disitu ada kamu, kamu satu-satunya senjaku yang ceritanya tak akan pernah habis.











" kata mutiara senja ini hanya sebatas meluangkan waktu beberapa detik mengheningkan cipta untuk mengungkap bagian dari kenangan kita " 

Jumat, 07 Juli 2017

Ke titik nol



Mungkin ini jawaban dari semua, aku tidak akan bertanya banyak soal apa yang aku lihat, apa yang aku baca, apa yang aku dengar dan apa yang aku pikirkan. Seperti situasi yang memaksaku kembali ke titik nol dimana hamparan debu tersapu angin tak bersisa.

Apa yang aku rasakan dengan sesuatu yang coba kamu tunjukan adalah apa yang aku nilai, sedikit demi sedikit sebuah rasa penasaran mengusik rasa yang sudah lama tinggal. Rasa yang dulu aku jaga, rasa yang dulu aku simpan, rasa yang dulu aku percaya bisa menyatukan, rasa yang dulu ku pertahankan perlahan mulai luntur lantaran semakin seringnya aku melihat senyum indah diluar sana yang coba kamu pertontonkan, entah itu sindiran, entah itu pertanda kebebasan, aku hanya menafsirkan itu sebuah kata mutiara tak bertuan yang membuatku bingung pada siapa harus minta penerangan.

Haruskah aku berpaling pada pendirian yang sudah lama aku pegang teguh. Karena sudah terlalu mustahil mengembalikan senyum ketulusan pada dasar yang seharusnya sudah dinilai seperti lagu penghantar kematian. Entahlah, aku belum berencana untuk mati karena masih ada cinta yang menanti, masih bisa aku tanam pada orang yang ingin datang dengan niat baik.











" belajarlah mencintainya sebagai sesuatu yang indah untuk dibenci " 

Rabu, 05 Juli 2017

Curhatan tentang kertas kecil yang disebut uang



Sepertinya aku memang sudah harus mengangkat tangan, tidak ada lagi yang bisa aku lakukan, sudah waktunya menyerah dan berdamai dengan uang. Tidak ada yang mudah selain dipermudah tumpukan kertas merah soekarno hatta. Sampai kapanpun aku tak akan bisa melampaui kemampuan uang, uang adalah pembenaran dari segala sisi. Jikalau uang sudah berbicara semua mutlak akan jadi harga mati meskipun bisa ditawar percayalah kamu akan tersiksa dikemudian hari.

Sudahlah kisah cinta romeo dan juliet tidak akan pernah bisa hidup didunia sekarang ini, ini dunia dimana segala sesuatunya berbayar, bahkan sepotong ayatpun sebagian sudah ada yang memasang tarif, jadi jangan heran kalau perbedaan antara haram dan halal cuma sebatas tumit kemata kaki.
Sudut pandang setiap orang berbeda, bagi orang sepertiku cukup terima saja dan percayakan pada Tuhan kalau semua itu sudah terencana, itulah kenapa Tuhan menciptakan wanita dari tulang pria bukan dari tangkai bunga mawar, karena Tuhan tahu segalanya.

Maafkan aku jika tulisan ini sedikit agak kasar, anggap saja sebuah curhatan untuk mewakili banyak orang diluar sana yang terkendala dana untuk beberapa hajatan mereka, termasuk aku.









" atas dasar uang semua orang bisa menjadi bukan seseorang " 

Lamunan dari tumpahan kopi



Bagi orang sepertiku hanya keajaiban yang bisa merubah segalanya dan jikalau beruntungpun butuh waktu bertahun-tahun baru dapat jawaban. Jika ini harus berakhir dengan luka aku siap membalutnya dengan kain lalu membakarnya hingga kering, akan terasa sangat sakit memang tapi ketahuilah aku pernah merasakan sakit lebih dari itu ketika aku mulai sadar seorang lelaki paruh baya tidak lagi ada menemaniku bertumbuh menjadi pria dewasa hingga sekarang ini. Lalu seorang wanita tua yang kehabisan usianya disaat aku mulai mengerti cara-cara bertahan hidup dari sepotong roti dan secangkir susu, hingga detik ini pertanyaanku tetaplah sama, ini ujian atau hukuman ?

Jika kalian diluar sana mempertanyakan sekeras apa perjuanganku, itu adalah sebulat tekadku memaksa menelan nasi bertabur garam, asin memang. Tapi tetap harus ditelan demi menghentikan bunyi alarm. Sekeras dan sekuat apapun aku berusaha hasilnya akan tetap sama, tak akan pernah bisa cukup untuk membeli mulut-mulut orang diluar sana, jadi lebih baik diam dan berpura-pura tuli saja. Orang yang mulutnya suka berbicara kasar biasanya tidak lebih pintar dalam banyak hal, jadi percuma kalau harus repot memikirkan untuk membeli mulut orang yang otaknya sedikit kurang karena dijual kembali tidak akan laku.







" jangan menyeruput kopi yang sudah tumpah, 
  Lakukan hal seperlunya, secukupnya. Lalu bikinlah
 Kopi baru dengan gelas kecil " 

Selasa, 04 Juli 2017

Halaman baru buku PR Ku




Malam ini ada rindu yang tersendu-sendu seiring lingkaran mata yang mulai menghitam karena pikiran. Disaat seperti inilah semua jadi serba salah, rasa ini seperti ada tapi tak terasa dia ada, semua seakan sirna terkikis waktu yang tidak lagi ku kenal. Semerbak wangi tubuhnya menghantarkanku ke ruang mimpi yang berkelanjutan tanpa jeda. Ada bait-bait lagu yang belum selesai bersamaan dengan jarak yang berjauhan, entah suatu saat akan selesai atau akan terkubur ditanganku sendiri dan mematung seperti sepasang kursi tua kenangan yang dulu pernah kita duduki berdua.

Aku hanya ingin kita berjalan bersama, langkah demi langkah tanpa bertanya asalku. Tak ada yang bisa ku berikan padamu kecuali tanganku, aku tahu itu. Senyum ramahmu yang  tanpa sengaja menambah halaman halaman baru buku PR Ku yang harus aku pelajari setiap hari.











" cara sederhana menghargai perempuan adalah 
   Dengarkan dia disaat sedang marah, perempuan 
   Suka kangen saat kita bilang " udah marahnya " 

Senin, 03 Juli 2017

Antara malamku Dan diamku



Terkadang susah untuk bersyukur atas apa yang ada, semua tidaklah segampang kata mutiara yang kamu dengar. Hidup bukanlah seberapa banyak kamu menelan kata-kata bijak tapi seberapa bijak kamu bersikap. Aku tidak pernah merasa diriku orang yang baik, tidak juga ingin dinilai baik cukup sebagian orang mengenal dan menyadari keberadaan ku saja sudah cukup membuatku berasa hidup.

Hidupku tidaklah sesempurna orang lain diluar sana tapi setidaknya hidupku masih ada warnanya. Sekedar renungan pribadi dipertengahan malam yang membuatku susah untuk tidur lebih awal.

Semua memang terlihat mustahil dan terdengar gila ketika kita mulai berpikir, aku berpikir, berdo'a memohon, bersujud, kadang juga tidak tidur, bukan untuk menyiksa diri tapi karena pikiranku entah kemana. Aku berbaring sambil sesekali bangun dan menghirup secangkir kopi, lalu Ku pejamkan mata antara heningnya malam dan antara diamku. Malamku seakan bertabur cerita tanpa judul, saat aku memejamkan mata selalu ada sekilas kisah yang menepi dipikiranku. Kisah-kisah dalam imajinasiku, kisah-kisah yang mengganggu tidurku dan kisah yang mengganggu nafsu makanku.









" tempat terbaik untuk melamun adalah dipekatnya malam bertabur bintang " 

Minggu, 02 Juli 2017

Mimpi yang masih menggantung diatas langit


Sepertinya memang tidak ada mimpi yang nyata, seandainya mimpi itu benar-benar sungguh ada mungkin aku sudah kaya raya sejak dari dulu. Faktanya mimpi hanya sebatas bunga tidur dikala malam tiba. Aku pernah berlari sejauh yang aku bisa, aku pernah tertawa lantang seperti orang gila, aku pernah menangis sangat keras karena luka.

Aku tidak pernah bermimpi hidup seperti hidup sekarang ini tapi walau aku tidak pernah memimpikan itu dia tetap ada dijalur kehidupanku, hidup yang entah aku membencinya atau tidak ?. Sebaliknya mimpi ini hidup dihidupku bukan hidupku yang hidup dimimpiku. Aku tidak ingin berlarut-larut dalam mimpi yang tinggal dihidupku, karena bukan seberapa tinggi kita bermimpi tapi seberapa cepat kita bangun dari mimpi.

Aku selalu berusaha membuat nyanyian tetap bersenandung diatas langit, bukan mimpinya aku khawatirkan suatu saat akan jatuh tapi aku khawatir semangat hidupku terbang terlalu jauh dari sarangnya hingga lupa kalau masih tertidur pulas memeluk guling. Mimpiku selalu bersenandung diatas langit dengan nada-nada yang menggoda jiwa, entah sampai kapan dia membuat irama yang menggantung terlalu tinggi. Seandainya aku punya sayap, sudah pasti aku terbang menjemput mimpi itu, tapi sepertinya aku harus memanjat puncak tertinggi dan naik pesawat terbang untuk meraih mimpi itu. Atau tetap menunggu keajaiban sebuah sayap tumbuh dipunggungku.












" selalu ada kemungkinan disetiap detik, bahkan didetik terakhir sekalipun. Berjuanglah..." 

Rabu, 12 April 2017

Cerita yang tidak lagi sama





Semua berubah semenjak pagi terbentang jauh diluar sana, kamu menyambut pagimu dan aku menunggu pagiku. Tidak ada terbesit untuk mencari sesuatu yang lebih berharga, kamu satu-satunya alasanku bertahan. Aku tidak terbiasa memulai sesuatu dari awal.

Dalam hal ini aku tidak akan menyalahkanmu, seandainya kamu mulai mulai merasa bosan, seandainya kamu mulai terbiasa tanpa selamat pagi dariku. Aku akan belajar rela dan berbesar hati untuk bisa bergulat dengan waktu yang suatu hari akan menyakitiku. Tidak mudah untuk merubah kebiasaan, tapi aku yakin bisa, dan suatu saat akan terbiasa untuk tidak mendengar suara manjamu lagi.

Sebuah cinta yang lahir dari hati pasti akan tahu rasanya ketika salah satu dari hati mereka sudah tidak lagi saling menyapa. Cinta itu anugerah dari Tuhan bukan pemberian dari yang diatas, cinta itu bisa tumbuh dimana saja tanpa mengenal musim. Dan tidak ada cinta yang terlahir salah. Cinta itu aku, kamu, dia, mereka dan semua yang Tuhan ciptakan.








"  ada luka tersembunyi disetiap waktu,
   Dia datang menunggu waktu yang tepat,
   Bersiaplah untuk kemungkinan itu "


Minggu, 09 April 2017

Kamulah pemeran utamanya



Masalahnya bukan seberapa baik kamu memulainya, tapi seberapa buruk akhir ceritanya, dan yakinkan hatimu sesuatu itu berbeda dari aslinya. Terkadang semua itu berjalan terbalik dari apa yang kamu lihat. Percayalah semua akan sesuai dan tidak sesederhana dari apa yang kamu pikirkan. Setidaknya jalani saja seperti seharusnya, jangan pikirkan sebab dan akibat selagi itu tidak merugikan orang lain, anggap saja itu hanya nyanyian burung yang lewat. Jangan berusaha untuk membuat orang lain terkesan.

Jangan terlalu percaya omongan orang lain yang baru kamu kenal bahkan dia seorang ustad sekalipun, apalagi kalau cuma guru spiritual biasa. Cukup yakin dan percaya sama Tuhan saja sudah cukup. Hiruplah udara lewat hidung jangan lewat mulut, pilihlah nasihat yang perlu demi kebaikanmu, dari sahabat, orang tua, guru-guru disekolah. Karena terkadang orang yang baru kamu kenal hanya mampir sebentar untuk sepiring nasi. Bijaklah dalam memilih, jangan sampai karena kebaikanmu, kamu dapat dibodohi.







" semua nampak baik, tapi pilihlah yang terbaik.
  Layaknya menghirup udara, hiruplah lewat hidung
  Jangan lewat mulut " 

Sabtu, 01 April 2017

Sebuah rasa yang aneh



Aku dan kamu mulai berbicara banyak dengan mata saling memandang, saling tersenyum seolah kota ini milik kita berdua. Aku pernah melihat senyum itu sebelum mengenal nama panjangmu. Seuntai harapan mulai kita rajut bersama seiring cinta yang mulai tumbuh bersemi. Sedikit rasa ingin memeluk erat dan meraba wajah cemberutmu, itu membuat aku percaya selalu ada alasan menunggu meski dalam kehidupan selanjutnya.

Senyummu yang membawaku kedalam suasana baru, aku mulai menyukai semua tentangmu, aku suka wajah cemberutmu, aku suka nada suaramu ketika marah, aku suka alunan degup jantungmu, aku suka pencet hidungmu, aku suka mencium kedua matamu, aku suka cium keningmu, itulah cinta yang aku rasa. Aku senang melakukannya dan aku bahagia. Kamu sudah mulai merasa nyaman dengan kehadiranku, begitu indah seakan aku menemukan tumpukan berlian dihalaman rumah. Sungguh tidak bisa aku gambarkan secara jelas rasanya, yang pasti itu adalah bentuk rasa yang paling berbeda dari jutaan rasa yang ada didunia.

Senyummulah yang mampu merusak kinerja otakku, bahkan bisa menghentikan denyut nadiku, mimpi-mimpi seakan berubah jadi nyata. Aku yakin kamulah arti dari semua cerita yang ada, yang akan selalu hidup dalam lembaran kertas cerita dan tak akan bisa ku lupa.
Aku berharap waktu hanya berputar dan tersesat di jam yang sama, kemudian kembali lagi di angka sebelumnya, aku menginginkan waktu kita lebih lama.







(  sayangilah wanita mu, kecup keningnya, gigit hidungnya dan ciumlah kedua matanya )


Selasa, 28 Maret 2017

Sketsa sebuah senyuman

Senyuman ini bukan bearti tanpa beban, dengan teriak sepuasnya mungkin bisa lega. Aku bingung menggambarkan hidup ini seperti apa. Mencoba belajar dan mempelajari tata cara alam menyapa tidak juga menemukan arti hidup yang sesungguhnya. Mungkin jati diri ini terlalu dalam untuk bisa aku temukan, senyum ini kebahagiaan buat semua orang. Wajah ini bisa senyum dan tertawa tapi hati kecil ini punya alur cerita yang berbeda.

 Disaat aku menangis, itu bukan karena aku cengeng atau sedikit alay. Ada adegan-adengan cerita yang tidak harus kalian tahu dariku. Hari-hari dimana waktu memaksaku berpikir tentang banyak hal. Mungkin kita harus bertukar posisi biar kamu tahu rasa sakitnya dibilang alay, kalian yang terlahir kaya raya sejak dalam kandungan akan dengan mudah mencari jalan yang diinginkan. Sedangkan aku harus bertarung dulu untuk bisa menang.

Sampai hari ini aku belum tahu arti seorang ayah, ayah yang ada dalam pikiranku sekarang adalah "ayah yang selalu muncul disaat aku menatap cermin". Aku akan selalu jadi ayah bagi diriku dan akan tetap jadi bayi besar untuk wanitaku nanti. Selalu yakin dan percaya diantara kobaran api masih ada beberapa iblis yang baik hati. Aku tidak berharap orang disekitarku berprilaku layaknya seorang malaikat, aku lebih senang ada iblis yang baik hati mendengarkan ceritaku lalu tertawa bersama tanpa berpura-pura.













 ( ayah bagiku adalah ayah yang selalu ada disaat aku menatap cermin )

Minggu, 26 Maret 2017

Kertas kosong



Suatu hari akan aku bukukan apa yang melintas dalam pikiranku, dan yang telah hidup didalamnya. Walau tidak hari ini atau esok.
Pada bintang-bintang yang jauh diatas sana, pada bumi yang entah bulat atau datar. Bumi memang bulat pada dasarnya dari berbagai Sumber, bumi memang bulat dari yang terlihat tapi datar dari yang terasa. Mungkin itu semacam fatamorgana yang kamu lihat ada mata air dihamparan gurun pasir, layaknya hidup tidak terlalu jauh berbeda. Hidup ini tidaklah sungguh nyata tapi dia ada dan harus kamu jalani sesuai prosedur dan ketentuan sang pencipta.

Setiap detik hembusan nafas yang hidup itu sangatlah berharga. Janganlah kamu hentikan dia dengan gantung diri dan cara-cara menyakitkan lainnya, ingat neraka itu bukan sekedar dongeng.
Hidup sangat lah erat kaitannya dengan cinta, aku sering menafsirkan banyak hal tentang hidup, aku pernah hanya merasa bernafas tanpa pernah merasa hidup karenanya.

Hidup itu seperti layaknya seorang petarung bukan seorang prajurit. Hiduplah dengan cinta yang benar, cinta yang kamu yakini bisa melindungi serta membawa kebahagian. Percayalah apapun yang terjadi cinta akan selalu menjaga dirimu.

Lebih baik menyesal karena keputusan yang kamu buat sendiri ketimbang menyesal karena telah mendengarkan orang lain. Hiduplah menurut hidupmu sendiri, buatlah kebahagianmu sendiri. Aku lebih bahagia atas penyesalan yang telah aku buat.
Akan tetapi nasihat itu tetap perlu, dengarkan, pilihlah yang menurutmu baik dan lakukan dengan caramu sendiri. Kebahagiaanmu ada pada keputusan yang kamu ambil. Kebahagiaan mu bukan ditangan orang lain, bahkan bukan keputusan dari orang tua mu.

Orang tua hanya memberi nasihat yg terbaik, memberi pelajaran yang terbaik, memberi contoh yang terbaik, membimbingmu kejalan yang benar, memberimu kebahagian bukan membuat keputusan untuk kebahagiaanmu. Kamu berhak memilih.
Hidup terkekang itu bukan hidup tapi hanya bernafas, kamu hanya mengikuti alur cerita yang sudah tertulis sejak lama. Sesekali siapkan kertas kosong untuk ceritamu, jangan hanya terpaku pada cerita kancil dan buaya, karena cerita itu tidak akan pernah berubah sampai anak cucumu, ceritanya akan tetap sama.









( hiduplah menurut hidupmu sendiri,
  Aku lebih bahagia atas penyesalan yang telah aku buat ) 

Selasa, 21 Maret 2017

Mimpi Dan Harapan



Musim kini berganti lebih cepat. Embun pagi terasa bersahaja, namun warna seakan masih memudar dibatas kota. Sisa-sisa mimpi yang mulai mati perlahan. Semua seakan berakhir disini, mimpi yang dulunya terlihat kini memudar seiring waktu.
Sekarang aku mulai berpikir, apa mungkin seseorang yang bukan apa-apa bisa mendapatkan sesuatu yang sangat berharga ?

Memang tidak ada yang tidak mungkin, tapi bagi seseorang yang tidak punya kuasa perlu usaha keras untuk mencapai apa yang diharapkan. Aku pernah berharap mendapatkan seorang bidadari cantik, seksi, kaya, baik hati, dari keluarga berada. Seandainya aku kaya, mungkin akan sedikit berbeda, aku tidak terlalu memimpikan mendapatkan wanita yang kaya karena mau dari keluarga berada ataupun sederhana tidak akan terlalu berpengaruh kedalam ceritanya, karena aku kaya.

Aku tidak menyalahkan apa yang sudah aku mulai, mungkin aku memulainya dengan cara yang salah atau salahnya yang terletak padaku. Aku belajar memahami banyak hal yang seharusnya tidak perlu aku lakukan, rahasia yang tidak harus dipecahkan, karena tidak akan ada jawaban. Ada kalanya merasa bahagia, ada kalanya juga merasa sedih. Perpaduan rasa yang sebenarnya sudah seimbang. Tapi aku tetap berharap mimpi yang aku impikan jadi kenyataan. Akan tetapi aku tetap selalu berhati-hati untuk tidak terjebak dalam mimpiku sendiri, dan tidak hidup didalamnya.

Menikmati sketsa dari ceritanya walau tidak begitu jelas terlihat, tapi aku selalu ingin menggapai bayang-bayang yang ingin Ku gapai. Namun jiwa seketika membeku menjadi gumpalan es yang sangat dingin. Seperti berjalan dilorong yang sangat gelap, ku coba lewati lorong itu, tapi berakhir seperti sebelumnya. Aku termenung, Ku dapat satu kaya yang membuat aku galau untuk berjalan, kata itu indah bila berhasil, kata itu mati bila salahku. Karena aku berjalan diatas sehelai benang setajam mata pedang.

Selalu ada kemungkinan tak terduga setiap hari, kemungkinan yang bisa merubah hidupku, kemungkinan yang bisa menuntunku kearah yang lebih baik, kemungkinan yang bisa mempertemukanku dengan orang yang tepat.











( bermimpilah setinggi mungkin,
   Tapi jangan sampai terjebak dan hidup
   Dalam mimpimu sendiri ) 

Senin, 20 Maret 2017

Surga yang hilang



Telah ku ukir wajah seorang wanita berambut panjang dengan sedikit uban, pada langit-langit mulut dan dinding-dinding jantungku. Anehnya tidak begitu terasa sakit bahkan ketika alat pengukir mulai menggores bagian dari jantungku. Wajah itu selalu menatap setiap saat bahkan ketika gelap. 
Rasa yang aku rasa tidak begitu terasa, sangat berbeda dan tetap membisu dibalik jeruji besi berkarat. Tidak ada yang bisa aku lakukan, dengan sedikit air mata aku berdo'a, berharap Tuhan akan merasa iba. Tuhan tolong bangkitkan dia walau hanya satu menit. 
Izinkan aku mencium keningnya.
Izinkan aku membasuh jari-jari kakinya.
Dalam keadaan bernafas bukan dalam keadaan tertidur lelap.
Saat dimana aku tidak merasakan detak jantungku, seakan berhenti berdetak dalam beberapa detik. Aku benar-benar mulai merasa ada surga yang hilang diguyur air yang membasahi tubuhnya. Ku lihat wajahnya bagai ada sedikit senyum berisyarat padaku, itu hari dimana aku tidak memperdulikan putaran jarum jam. Berharap tetap bisa menatap malaikat yang baru saja kehilangan sayap.

Waktu terasa berhenti sejenak dan dunia terasa kosong, tanpa ada sedikitpun suara yang bisa ku dengar. Bahkan malam itu aku sanggup menghilang kan semua bentuk rasa yang ada. Aku tidak merasa lapar, aku tidak mengantuk, tapi ada dua rasa yang tidak bisa aku singkirkan, yaitu rasa sedih dan kehilangan. Segenap jiwaku hanya bagian dari raga yang berdiri  dan duduk tanpa artist yang suatu waktu juga akan terbaring. 

Hidupku seakan hancur berantakan, aku seolah-olah bertindak tidak terjadi apa-apa, aku berpura-pura semuanya terlihat baik-baik saja. Walau berusaha untuk baik-baik saja itu tidak mudah. Jawaban yang coba aku tanyakan pada sekawanan serigala liar dalam hutan. Dipenghujung malam yang sepi aku sendiri, duduk melamun jingkrak-jingkrak , duduk lagi dan berdiri lagi, aku ingin teriak sekencang-kencangnya.

Malam ini aku berencana untuk tidur lebih awal, aku ingin tenang dan tidak banyak pikiran dulu. Tapi kayanya malam enggan meninggalkan ku sendiri.
Hal yang tetap aku benci, menunggu pagi dikala waktu tak berpihak. Sulit untuk bisa kuterima, bagai orang gila yang sadar kalau dirinya lagi. Tidak banyak yang bisa aku lakukan, aku berserah padamu, aku yakin sang waktu akan punya skenario baru untuk ceritaku yang jauh lebih indah.










( ketika sang waktu belum berpihak padamu,
  Sabarlah...
  Dia punya skenario baru untuk ceritamu 
  Yang jauh lebih indah ) 

Sabtu, 18 Maret 2017

Mimpi kecil bertabur cokelat



Peristiwa yang kemarin terjadi, itu merupakan sejarah untuk hari ini. Hari-hari Ku berjalan seperti mimpi, pagi dan senja terasa sangat dekat. Entah bagaimana langkah kakiku tetap terpaku dimasa lalu. Aku tidak ingin hidupku berakhir dengan sejarah kertas yang berdebu termakan usia.

Ingin sekali terlepas dari belenggu hidup yang masih penuh titik-titik kekosongan. Tanpa kepastian, tanpa titik terang, tanpa bimbingan, tanpa rembulan, semua yang aku lihat hanya gelap. Aku sadar kebahagian ku terletak pada seberapa beruntung tebakan angka yang aku pasang, tidak ada yang salah dari itu semua.

Aku tahu ini akan semakin sulit, aku tahu ini bukan mimpi, aku tahu ini dunia nyata bukan sinetron atau FTV remaja, bukan juga sebuah drama komedi. Jauh dari itu semua kisah ini tertulis tanpa sengaja di kertas harian buku ulangan yang penuh angka Lima, ini bukan takdir. Hanya nasib yang salah tempat.

Apapun itu, semua bisa berubah kapan saja, kelak akan ada matahari menyambut pagiku dengan segelas teh sambil tersenyum bahagia. Angan-angan yang sudah lama aku tanamkan dalam benak Dan mimpi kecil bertabur cokelat.








( entah itu waktu yang tepat ataupun tidak,
  Terkadang waktulah satu-satunya tempat
  Dimana kita bisa belajar banyak hal ) 

Jumat, 17 Maret 2017

Cerita lama



Senja indah tatkala matahari mulai terbenam di barisan pepohonan. Sebuah lagu sendu tercipta di benakku, sebuah senyum kecil terjadi begitu saja. Sedikit tertawa dalam kenangan lama.

Senja jingga yang menawan. Membuka ingatan lama sebuah cerita, cerita cinta yang sebenarnya tidak aku mengerti. Hanya saja semua itu punya senyum tersendiri dibalik judul yang tak terukir. Semua nampak berbeda sekarang dari yang terlihat, suasana yang berbeda tapi tetap di tempat yang sama.

Semua yang terjadi dan pernah dilalui pada masa lalu terasa sangat lucu, aku pernah merasa egois untuk tidak ingin kehilangan sesuatu yang aku sayang.
Sekarang aku hanya bisa tertawa dan terkadang senyum sendiri apabila sekilas hujan lewat datang membasahi kepala, sekedar mengusik cerita lama.

Hari mulai gelap menandakan aku harus berhenti tersenyum, gerimis selalu mengundang disaat malam sendiri, termenung dengan segelas kopi.

Kenangan tetaplah kenangan, tidak ada yang istimewa dari itu semua, dia hanya lembaran kertas yang tanpa sengaja pernah kamu baca. Hanya orang bodoh yang berpikiran pernah memiliki mantan terindah, aku lebih senang ada yang berkata : " aku pernah melakukan dosa terindah bersama dia".

Gelombang jiwa yang dulu pernah membara kini perlahan mulai seimbang seiring usia yang semakin berkurang. Dalam hidup ini tidak ada istilah memiliki, karena semuanya bisa hilang dan pergi kapan saja. Yang bisa kamu lakukan hanya berjuang dan mempertahankan apa yang kamu punya.

Cinta itu tidak hanya sekedar mencium kening, tidak sekedar jalan bersama, tidak sekedar bergandengan tangan. Ada tanggung jawab sangat besar dari sekedar memberi makan.







( kenangan tetaplah kenangan, tidak ada yang istimewa dari itu semua. Dia hanya lembaran kertas yang tanpa sengaja pernah kamu baca )

Harapan dipenghujung senja



Ketika cahaya mulai meredup, ketika kantung mata mulai berkerut, ketika rambut mulai memutih, ketika jalan mulai membungkuk, entah setua apa aku nanti.
Kalau saja aku mampu menghitung bintang dilangit, kalau saja aku bisa terbang, kalau saja aku pewaris tahta kerajaan. Barangkali aku tidak akan memikirkan masa tua Ku yang akan datang.

Dikala senja mulai terbenam, ketika mentari kembali terbit. Ada harapan yang tetap sama, harapan untuk tetap bisa tersenyum dipenghujung senja. Detik-detik waktu yang mulai menghilang seiring hari yang terus berganti, hari-hari yang pada waktu tertentu selalu ingin aku ulang kembali.

Wajah-wajah yang mungkin perlahan mulai tidak aku kenali, mungkin aku juga akan lupa raut wajah tampanku dulu. Entahlah ...
Lamunan dipenghujung senja kampung halaman yang tidak pernah bisa aku rindukan.

Cahaya jingga terpancar disela-sela awan seberang sungai, matahari terlihat bergeser dari dahulu yang pernah Ku lihat. Gelombang menari-nari tertiup angin, burung-burung terbang gembira sambil tertawa.

Aku selalu ingin pergi jauh dari kampung tempat lahirku. Bukan karena aku membenciNya, hanya saja aku tidak bisa membuat keberuntungan Ku di sini. Sesekali hanya mampir untuk menjenguk gundukan tanah kedua orang tua Ku. Aku tidak ingin ceritaku berakhir disini dan terkubur, karena aku percaya "Tuhan menciptakan Ku menjadi orang kuat di antara beberapa orang terkuat ".








      ( Tuhan menciptakan Ku menjadi orang kuat di antara
         Beberapa orang terkuat ) 

Suara hatiku




Hidupku sudah cukup terkekang, aku tidak ingin hidupku lebih terkekang lagi dengan rutinitas yang sama sekali tidak Ku suka. Percayalah aku tahu yang aku lakukan. Kalau menurut kamu itu salah tapi tidak dariku, Mungkin itu cuma masalah sudut pandang dari mana kamu melihatnya. Hidupku tidak akan berubah sebelum aku merubahnya. Aku melakukan yang belum pernah aku lakukan sebelumnya. Aku juga pernah bilang jangan membandingkan hidupku dengan orang lain sebagai penyemangat karena itu tidak akan membantu, malah lebih melukai perasaanku sebagai lelaki.

 Aku memang tidak sehebat dan setangguh orang diluar sana yang kamu kagumi. Maaf soal kalau aku tidak bisa memberikan kebahagian dengan cara seperti orang diluar sana yang penuh dengan kejutan hadiah.

Percayalah, hidupmu tetap akan selalu menarik tanpa adanya aku. Hanya saja mungkin kelak kamu merasa akan ada yang kurang. Entah apa, mungkin itu aku. Kamu harus ingat " sesuatu yang telah pergi meskipun kembali, iya tak akan sama lagi. Hidup sudah cukup banyak memberi pelajaran mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang harus diperjuangkan, mana yang harus pertahankan, dan mana yang harus diikhlaskan.

Entahlah, mungkin terlalu banyak kesimpulan yang aku ambil, sesekali aku harus mendengarkan suara hati bukan hanya mendengarkan alunan lagu.
Bunga-bunga yang mulai layu, daun-daun yang mulai berguguran, pohon-pohon yang mulai tumbang perlahan, matahari yang bergeser sedikit demi sedikit tanpa kita sadari.
Kadang suka kepikiran siapa yang mewarnai buah pisang itu kuning. Dan kenapa buaya hidupnya di air, tidak di dinding merayap seperti cicak.

Suara hatiku tidak lagi sama dan sejalan dengan pemikiranku. Aku lebih banyak mengikuti kata hati tanpa berpikir lebih dahulu. Tapi apapun itu, terlepas dari benar atau salah, suara hatiku tetaplah ruang hampa yang tidak bersuara untuk menjelaskan itu semua. Dia hanya muncul disaat aku bimbang. Itu yang aku rasa.

Aku tidak bisa menyimpulkan banyak dari semua yang telah lalu, kata orang, yang terjadi biarlah terjadi, dan yang berlalu biarlah berlalu. Pikirkanlah sesuatu yang lebih baik, lebih matang, rencanakanlah sesuatu yang bisa membuat hidupmu lebih terasa indah, lebih semangat, karena sesuatu tidak akan bisa terjadi apabila kamu hanya menunggu sesuatu untuk terjadi.












(  apapun itu terlepas dari benar atau salah, hidupmu tetaplah hidupmu.
    Lakukanlah yang ingin kamu lakukan
    Karena sesuatu tidak akan terjadi
    Apabila kamu hanya menunggu sesuatu untuk terjadi )

Rabu, 15 Maret 2017

Sekilas waktu




Sekilas waktu yang pernah membuatku tersenyum bersamamu, sekilas waktu yang memberiku rasa takut kehilanganmu, sekilas waktu yang mengajariku merindukanmu, sekilas waktu yang aku takutkan suatu saat akan memisahkan kita. Oleh karena itu aku tidak ingin membuat janji yang tidak bisa aku tepati. Saat ini aku hanya bisa meyakinkanmu disisa waktu yang ada.

Aku sering membayangkan hal menyenangkan bersamaku kelak, walau waktu, situasi dan tempat belum bersahabat. Aku selalu berusaha untuk membuat mu merasa nyaman, merasa bahagia atas adanya aku. Walau cepat atau lambat ada masa dimana kamu akan mulai merasa bosan dengan semua kata ketidakpastian sebuah hubungan.

Memang tidaklah mudah untuk tertawa dan sangatlah sulit untuk menangis ketika cerita yang kita jalani belum menemukan judul yang tepat. Setidaknya itulah sebuah pilihan yang entah benar atau salah aku tidak tahu.







( jangan pernah membuat janji disaat sedang jatuh cinta,
  Karena itu hampir sama dengan kamu membuat keputusan disaat sedang marah )

Selasa, 14 Maret 2017

Air mata dari semua makna



Sebentar lagi hujan, gelap awan menghitam. Gumpalan air mulai jatuh, aku berdiri menanti turunnya hujan sore itu. Sebentar lagi aku menari, berlari-lari kecil diteras rumah, melompat-lompat lalu berbaring memejamkan mata. Ku rasakan setiap sentuhan air mengenai wajah, ada rasa damai untuk sejenak. Hujan yang tetap sama, dingin dan sejuk. Beberapa saat membuat aku lupa segalanya. Waktu seakan berputar ditempat yang sama, kemudian kembali lagi seperti semula.

Waktu adalah satu satunya didunia ini yang tidak mungkin akan bisa kembali. seberapa beruntungnya aku, tidak akan pernah bisa memutar waktu. Tapi setidaknya ada rasa bahagia ketika bisa mengingat waktu sebelumnya.

Bagiku waktu adalah air mata dari semua makna. Enggan rasanya untuk beranjak dari siraman air hujan, tapi aku harus melanjutkan hidup yang masih bisa Ku jalani. Tetap berjalan meski dengan merangkak, suatu saat akan ada hari dimana aku bisa tertawa lepas. Hari dimana aku bisa hidup bahagia. Berbagi cerita, duduk duduk santai membaca buku atau sekedar berbaring didepan televisi bersama kamu yang memberiku waktu, waktu yang selalu Ku harapan berputar ditempat yang sama.









( waktu adalah bagian dari sebuah cerita yang terbentuk oleh waktu,
   Tempat, siapa, kejadian, dimana, dari waktu itu sendiri )

Senin, 13 Maret 2017

Pria tua



Angin malam terlalu dingin untuk jadi teman dan sangat menusuk tulang, beberapa saat aku tenang lalu menangis. Hampir setiap malam aku menunggu, menunggu malam untuk berhenti, tapi bayangan yang tertulis dibatu nisan selalu menghantui.

Wajahmu masih Ku ingat, sedikit kerutan dan rambut yang memutih. Aku pernah lihat lukisanmu di beberapa buku yang Ku buka, saat itu aku memang belum mengerti tentang coretan pensil, tetapi itu sangat menarik perhatianku. Lukisan yang hanya bisa Ku ingat, pria tua dengan sampan kecilnya. Mungkin itu kamu ?
Entahlah, aku belum sempat tanyakan itu.

Kamu juga suka menggiling tembakau dengan halus lalu menghisapnya dalam-dalam. Hanya itu hal sederhana yang bisa Ku ingat, mencoba mengingat semua tapi tak bisa. Aku hanya anak-anak yang belum mengerti tawa dan tangis dunia.

Hangatnya pelukanmu beberapa saat aku rasa hingga kau pergi, istri mu bilang ke balikpapan. Hampir setiap hari aku bertanya " kapan kamu pulang " ?

Sampai akhirnya waktu memaksa aku mengerti segalanya. Kamu pria tua yang mengajariku bersikap dewasa belum pada waktunya. Aku cuma bisa berharap ayahku bangga padaku, walau aku tidak pernah tahu ayahku memimpikan aku seperti apa, tapi aku selalu memimpikan itu, mimpi seperti yang mungkin ayahku impikan padaku.









( walau aku tidak pernah tahu ayahku memimpikan aku seperti apa, tapi aku selalu memimpikan itu, mimpi seperti yang mungkin ayahku impikan padaku )

aku harus membuat keberuntunganku sendiri



Semua sangat cepat berlalu dengan sendiri nya. Tapi bagiku terasa sangat lambat, entah bagaimana begitu nyaring bunyinya tapi tidak pernah bisa Ku dengar, entah aku yang tuli,
Seperti sangat jelas tampak terang entah bagaimana tidak terlihat, mungkin aku yang buta, atau memang jalan nya yang memang tak berujung. Mungkin Tuhan ingin aku membuat keberuntunganku sendiri.

Malam semakin larut, aku belum bisa untuk beranjak dari tempat dudukku disudut kamar ini. Cahaya lampu redup memilukan suasana, pantulan cahaya lampu disudut kamar sedikit membantuku menatap cermin, samar-samar terlihat wajah yang sama, tanpa ekspresi gembira ataupun tersenyum singkat, hanya kantung mata yang menghitam. Aku selalu berusaha menyembunyikan kerutan pada wajah, wajah yang kusam. Apa mungkin aku bisa bertahan dari misteri jalan hidup yang masih berantakan.

Beban yang aku rasakan berbanding terbalik dengan orang dipinggiran jalan. Tentu kalian pernah dengar atau lihat pengemis punya rumah mewah dan uang ratusan juta dari hasil menadahkan tangan. Ingin rasanya melakukan hal yang sama, tapi aku terlalu malu untuk melakukan itu. Dan akan merasa berdosa kalau harus berpura-pura Tuhan tidak tahu yang aku lakukan, tidak bermaksud membandingkan hidupku dengan peminta minta. Entah apa dalam pikiran mereka, mungkin itu pekerjaan yang mudah, mungkin itu sesuatu yang menjanjikan, mungkin itu jalan satu satunya. Aku tidak pernah menyalahkan apa yang coba mereka sandiwarakan dengan tangisan ataupun kesedihan, itu adalah suguhan drama yang begitu sempurna. Tapi maaf teman, aku tidak pernah bisa percaya itu, karena hidupku tidak seindahan tangisan kalian dan tidak semanis ice cream ditoko seberang jalan.

Kadang aku merasa ada yang berbeda, hidup seperti sebuah dongeng yang sudah pernah diceritakan berulang-ulang kepala seorang anak. Mungkin hanya terbawa suasana dan perasaan atau memang karena aku mulai terbiasa menikmati setiap harinya. Sesekali ada rasa bersalah karena terlalu sering meminta sesuatu yang berlebihan kepada Tuhan. Seiring waktu semua itu mengikuti, walau tidak semua sesuai rencana, karena aku sadar, aku bukanlah pengarang asli dari ceritaku.





( tidak semua sesuai rencana, karena kamu harus sadar kamu bukanlah pengarang asli dari ceritamu )

Sabtu, 11 Maret 2017

TUMPUKAN KERTAS KUSAM



Khayalanku berputar-putar ditempat yang sama, itu karena aku masih tersesat dikamar sendiri. Kamar yang penuh dengan kabut asap rokok, aku mencoba berdiri untuk berlari, namun jejak kaki perlahan berjalan mundur, impian dan harapan tersimpan rapi dalam tumpukan kertas kusam. Entah sampai kapan ?
Bagai terbangun dari tidur panjang aku berusaha membuang serpihan jejak yang masih membekas.

Dalam sepertiga malam aku berharap ada sedikit keajaiban, keajaiban yang semua orang inginkan. Berbisik dalam hati seakan aku lupa, lupa bahwa masih banyak orang diluar sana yang membanting tulang demi sepotong roti. Mungkin aku yang terlalu tuli untuk mendengar suara jangkrik, entahlah. sebab aku tidak mengerti bahasa jangkrik.

Maafkan aku karena sudah berlari terlalu jauh, lalu menghilang sejenak, bukan karena takut, bukan karena terlalu kecewa tapi masih mencari. Aku yakin dan percaya tidak semua luka diujung jari manis itu pahit, masih ada kata manis tersemat di situ. Percayalah lama dan sangat lama kamu pasti akan merindukan tetesannya. Perlahan rasa sakit itu akan membuat kamu mengerti tentang cerita dunia.







( " dunia menyimpan berjuta cerita
     Dan saat cerita itu bicara
     Kamu akan menangis karenanya
Juga mungkin tertawa olehnya ")











Jumat, 10 Maret 2017

Mimpi secangkir kopi



                                               


  Adalah malam dimana aku menikmati secangkir kopi hitam di temani sedikit kue kering Dan kacang. Dalam lamunan angin malam, indahnya bintang jadi pengalih perhatian. Dikeheningan malam aku merasa ada kedamaian untuk merenungkan sesuatu yang Sudah lama hilang lalu berangan angan. Ingin rasanya menari ditengah jalan tanpa sehelai pakaian, suguhan yang coba aku tawarkan pada Tuhan.
   Waktu itu, entah apa yang merasuki otakku, aku tidak bisa membedakan antara bisikan malaikat atau setan?
Dalam lamunan kesendirian yang memaksa aku untuk menggunakan isi perut bukan otak atau hatiku. Karena jika perutku terisi, aku akn mengantuk Dan tertidur. 
    
   Sedang duduk seorang pria muda dengan kaos putihnya sambil menghisap dalam-dalam sebatang rokok. Asap pekat mengelilingi kepalanya, Ku lihat ada secangkir kopi hangat. Dia adalah temanku seorang penikmat kopi, dia juga pandai bercerita mimpi tak berujung setiap malam. Dia pria penghayal yang baik, kadang dia suka menahan rasa lapar setengah hari. 
Waktu itu kami mencoba merangkai mimpi. Anehnya mimpi itu selalu berakhir pagi dengan suara ayam jantan. Mungkin kami yang salah menghitung putaran jarum jam, pantas saja pagi datang terasa lebih cepat.

   Ada kalanya malam terasa sangat panjang di mana saat aku sendirian, aku sangat suka menikmati hari dimalam hari, hanya sekedar untuk merenung Dan memikirkan semua hal yang sudah pernah ku lewati. Malam ini cukup gelap, terlihat jelas bintang-bintang berhamburan, pemandangan yang selalu aku rindukan . moment dimana aku melupakan hal baik Dan buruk kehidupan. Pelangi malam yang ditangguhkan untukku, aku berharap ini sekilas ujian, karena semakin aku percaya, semakin itu ada. Di saat semua orang terlelap dengan mimpi indahnya, disitu aku berusaha untuk tidak tidur Dan mencuri sedikit mimpi mereka, walau aku sadar pelangi tidak akan pernah muncul di malam hari. Tapi aku bisa membuatnya dengan imajinasi atau dengan melukisnya malam ini .




  
"  disaat semua orang terlelap dengan mimpi indahnya, di situ aku berusaha untuk tidak tidur Dan mencuri sedikit mimpi mereka. Walau aku sadar pelangi tak akan pernah muncul dimalam hari" 

Puisi ( Lagu senja dan rindu )

Pada bait lagu yang sering ku dengar  Selalu saja rindu ini enggan pergi  Untuk sementara waktu  Biarkanlah aku mengingatmu ...